RSS

TAKHRIJ HADITS TENTANG KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ISLAM


 

  1. I.         Pendahuluan

Seluruh umat Islam telah menerima faham bahwa Hadits Rasulullah SAW itu sebagai pedoman hidup yang utama setelah Al-Qur’an. Segala persoalan manusia yang tidak ditegaskan ketentuan hukumnya, tidak diterangkan cara mengamalkannya, tidak diperincikan menurut petunjuk ayat yang masih mutlaq dalam Al-Qur’an, hendaklah dicarikan penyelesaiannya dalam Hadits. Lebih tegas lagi, Tuhan sebagai dzat yang mengutus Rasulullah saw untuk menyampaikan amanat-Nya kepada umat manusia, memerintahkan kepada kita semua agar berpegang teguh kepada apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Hasyr ayat 7

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٧)

 Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.(QS. Al-Hasr : 7)[1] Berpedoman kepada Hadits untuk diamalkan dan menganjurkan orang lain untuk maksud yang sama, adalah suatu kewajiban. Tentu saja pemilihan kualitas hadits baik shahih, hasan maupun dhaif harus diperhatikan secara seksama sebelum kita mempergunakan hadits tersebut. Metode takhrij merupakan salah satu upaya dalam memenuhi kebutuhan seseorang dalam meneliti keberadaan hadits. Cara ini kemudian didefinisikan sebagai proses penunjukkan Hadits pada al-Mashadir al-Ashliyyah –kitab-kitab hadits induk yang mencantumkan Hadits secara lengkap sanad dan matannya– untuk kemudian dilakukan penelitian martabat (validitas)nya jika memang masih diperlukan.     Sekurang-kurangnya ada beberapa alasan mengapa kita harus melakukan penelitian pada hadits.

  • Pertama,  Hadits merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah saw, sang pembawa risalah, sehingga segala sesuatu itu sangat berpeluang dianggap bernilai risalah. Adanya kepastian bahwa memang betul hal tersebut berasal dari sang pembawa risalah tadi itulah yang menyebabkan Hadits perlu diteliti.
  • Kedua, Hadits tidak sempat dibukukan seperti Qur’an, sehingga untuk menjamin otentisitasnya diperlukanlah cara-cara tertentu yang kemudian dikenal dengan nama takhrij.
  • Ketiga, secara empirik, periwayatan Hadits berlangsung dengan mempergunakan dua cara; yaitu riwayat Hadits bi al-Lafzh dan riwayat Hadits bil-ma’na. Cara pertama, riwayat Hadits bi al-Lafzh adalah cara meriwayatkan hadits yang dilakukan oleh para perawi dengan mempergunakan redaksi yang sama antara riwayat yang diterimanya dari gurunya (generasi sebelumnya) dengan riwayat yang disampaikannya kepada muridnya (generasi berikutnya). Sementara itu, cara kedua,  riwayat Hadits bi al-ma’na adalah cara meriwayatkan Hadits yang dilakukan oleh para perawi dengan mempergunakan redaksi yang berbeda antara riwayat yang diterimanya dari gurunya (generasi sebelumnya) dengan riwayat yang disampaikannya kepada muridnya (generasi berikutnya). Dalam perbedaan redaksi itu, boleh jadi terdapat kesamaan makna. Namun tidak tertutup kemungkinan, terdapat pula perbedaan makna yang ditangkap oleh perawi berikutnya, sehingga pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam matan Hadits pun menjadi berbeda.
  • Keempat, ketika sampai pada tahap kodifikasinya, banyak Hadits yang “tidak sempat diteliti” oleh para mudawwin-nya, sehingga banyak Hadits yang tidak diketahui kepastian kualitasnya. Kalaupun sempat diteliti, ternyata “hanya” kitab Shahihain (shahih Bukhari dan shahih Muslim) yang “selamat”  dari “cacat” yang terdapat pada Hadits selama proses periwayatan dan kodifikasinya. Di luar dua kitab tersebut, Hadits masih memerlukan penelitian ulang.
  • Kelima, Hadits yang tidak diketahui kepastian kualitasnya itu nampak sudah “terlanjur” dibaca, difahami, dikutip (dan karenanya diyakini sebagai bagian risalah) oleh generasi yang datang pada waktu berikutnya (menjadi reliabel),  sehingga risalah itu pun, kasarnya, nampak tercampur antara Hadits yang diketahui kepastian kualitasnya dan yang tidak.

Sementara itu, secara historis, kontribusi Hadits terhadap ilmu-ilmu keislaman seperti al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an), Fiqih/Ushul Fiqih, Ilmu Kalam, Tasawuf dan lain-lain sangatlah tinggi, bahkan nampak tidak dapat dipisahkan. Konsep-konsep besar seperti Asbab al-Nuzul, Tafsir bi al-Ma’tsur, Istinbath al-Ahkam dan yang lainnya telah menjadi “lahan penetratif” Hadits[2].   Al-Qur’an berbicara tentang perempuan dalam berbagai surat, dan pembicaraan tersebut  menyangkut berbagai sisi kehidupan. Ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajibannya, ada pula yang menguraikan keistimewaan tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah agama dan kemanusiaan. Secara umum surat An-Nisa ayat 32 menunjukan hak-hak perempuan:

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢)

 “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa : 32)  Belakangan ini kepemimpinan wanita menjadi tren dimasyarakat dalam semua aspek kehidupan. Tak jarang kita menemukan sejumlah prestasi kepemimpinan dalam setiap bidang kehidupan baik formal maupun non formal. Sebagai kepala Dirut perusahaan, menteri keuangan, bahkan Presiden Republik Indonesia yang kelima dipimpin oleh Ibu Megawati sebagai sosok perempuan yang turut aktif dalam bidang politik. Dalam buku Wawasan Al-Qur’an karangan Dr. Quraisy Syihab, dalam pembahasannya mengenai Hak-hak perempuan dijelaskan. Apakah wanita memiliki hak-hak dalam bidang politik? Paling tidak ada tiga alasan yang sering dikemukakan sebagai larangan keterlibatan mereka.

  1. Ayat Arrijalu Qowwamuna ‘alan nisa’ (lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita)
  2. Hadits yang menyatakan bahwa akal wanita kurang cerdas dibandingkan dengan akal lelaki.
  3. Hadits yang menyatakan lan yaflaha qaum wallauw amrahum imra’at  (tidak akan berbahagia satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan)[3].

Berdasarkan pernyataan di atas, penulis merasa perlu mengadakan penelitian terhadap hadits yang dimaksud pada nomor tiga di atas dengan menggunakan metode takhrij hadits. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam metode takhjij hadits adalah sebagai berikut:

  1. Mencari Hadits dalam Buku populer
  2. Mencari Hadits dalam kitab Hadits populer
  3. Indexing dengan menggunakan kitab Al-Mu’jamul Mufahros
  4. Mencari Hadits dalam mashadirul ashliyah (sumber asli)
  5. Menganalisis sanad Hadits
  6. Menganalisis mata Hadits
  7. Mencari penjelasan Hadits dengan menggunakan syarah turotsi dan syarah kontemporer.
  1. II.  Takhrij Hadits tentang Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam
  2. A.    Teks  Hadits dalam Buku Populer tentang kepemimpinan perempuan

Dalam buku wawasan Al-Qur’an karangan Dr. Quraisy Syihab terdapat pembahasan mengenai hak-hak Perempuan dalam bidang politik. Diantaranya hadits berikut yang dijadikan sandaran sebagian orang mengenai tidak bolehnya seorang perempuan menjadi pemimpin.

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً  (رواه البخاري والنسائ والترمذي واحمد)

Ketika Rasulullah Saw. Mengetahui bahwa masyarakat Persia mengangkat Putri Kisra sebagai penguasa mereka, beliau bersabda, “Tidak akan beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.” (diriwayatkan oleh Bukhari, An-Nasa’I dan Ahmad melalui Abu Bakrah)[4]

  1. B.     Teks Hadits dalam kitab Hadits populer

Setelah diadakan penelusuran hadits dalam kitab hadits populer, ditemukan teks hadits yang serupa dalam kitab bulughul marom dalam kitab Qodo no.urut hadits 1340.[5]

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَةً )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ 

  1. C.    Indeksing

Untuk meneliti indexing hadits yang terdapat pada buku populer dan kitab hadis populer, digunakan qoidah :

التخريج عن طريق معرفة كلمة يقل دورانها على الألسنة من أي جزإٍ من متن الحديث

Maka dari itu kami menggunakan kitab المعجم المفهرس لألفاظ الحديث  dan hasilnya adalah sebagai berikut :

  1. Pencarian dilakukan dengan menggunakan lafadz لن يفلح
  2. Hasilnya diperoleh di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras juz 5.[6]

  1. Di dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa hadits di atas diriwayatkan oleh :
  2. Al-Bukhari

(Ditemukan dalam Kitab Shohih Bukhari, Maghozi bab.82 no. hadits 4425 dan kitab fitan bab.18 no. hadits 7099 hal.838)

  1. At-Tirmidzi

(Ditemukan dalam kitab Jami’ut Tirmidzi, fitan bab. 75 no.hadits 2262 hal.374)

  1. An-Nasa’I

(Ditemukan dalam kitab Sunan An-Nasai, Qudhot bab.8 no.hadits 5388 hal.546)

  1. Ahmad bin Hanbal

–          Setalah dilakukan penelitian indexing dalam riwayat Ahmad, peneliti tidak menemukan hadits yang dimaksud sesuai dengan kitab Mu’jam diatas. Maka penulis berinisiatif untuk melakukan pencarian indexing  hadits riwayat Ahmad yang dimaksud dengan menggunakan program Maktabah Syamilah. (Ditemukan dalam kitab musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Juz 24 no.hadits 20402 hal.43, Juz 24 no.hadits 20474 hal.120 dan Juz 24 no.hadits 20517 hal.149)

  1. D.    Mashodirul Ashliyah
  2. 1.      Hadits Riwayat Al-Bukhari

Kitab Maghozi bab. 82 no. hadits 4425.[7]

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Kitab Fitan bab.18 no. hadits 7099.[8]

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
 
2.      At-Tirmidzi 
Kitab Fitan bab. 75 no.hadits 2262.[9]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً


 

  1. 3.      An-Nasa’I

Kitab Qudhot bab.8 no.hadits 5388.[10]

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا بِنْتَهُ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
  1. 4.      Ahmad bin Hanbal

Juz 24 no. hadits 20402.[11]

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي بَكْرَةَ  عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ
Juz 24 no.hadits 20474.[12]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ ، حَدَّثَنَا عُيَيْنَةُ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي بَكَرَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ.

Juz 24 no. hadits 20517.[13]

حَدَّثَنَا  هاشم، حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ ، عَنِ الْحَسَنِ ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ.

         

  1. E.     Analisis Sanad dan Rowi
  2. 1.      Deskripsi Sanad

Hadits Riwayat Al-Bukhari

  1. Kitab Maghozi bab. 82 no. hadits 4425 hal.838
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Hasan
  3. ‘Auf
  4. Utsman bin Haitsam

أَبِي بَكْرَة

الْحَسَنِ

عَوْفٌ

عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ

النبي

  1. Kitab Fitan bab.18 no. hadits  7099  hal.1356
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

1.    Abu Bakroh
2.    Hasan
3.    ‘Auf
4.

أَبِي بَكْرَة

الْحَسَنِ

عَوْفٌ

عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ

النبي

   

 ‘Utsman bin Haitsam

Hadits Riwayat At-Tirmidzi 
Kitab Fitan bab. 75 no.hadits 2262  hal.374
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً قَالَ فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ يَعْنِي الْبَصْرَةَ ذَكَرْتُ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَنِي اللَّهُ بِهِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Hasan
  3. Humaid At-Thowil
  4. Khalid bin Harits
  5. Muhammad bin Al-Mutsanna

أَبِي بَكْرَةَ

الْحَسَنِ

حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ

خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ

مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى

النبي

               
Hadits Riwayat An-Nasa’I Kitab Qudhot bab.8 no.hadits 5388 hal.546

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا بِنْتَهُ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Hasan
  3. Humaid
  4. Khalid bin Harits
  5. أَبِي بَكْرَةَ

    الْحَسَنِ

    حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ

    خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ

    مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى

    النبي

    Muhammad bin Al-Mutsanna

          Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal

  1. Juz 24 no. hadits 20402 hal.43
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي بَكْرَةَ  عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Abi ‘Uyainah
  3. ‘Uyainah
  4. النبي

    أَبِي بَكْرَةَ

    أَبِي عُيَيْنَةَ

    عُيَيْنَةَ

     يَحْيَى

    Yahya

 

b.      Juz 24 no.hadits 20474 hal.120

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ ، حَدَّثَنَا عُيَيْنَةُ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي بَكَرَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ.

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Abi ‘Uyainah  (Abdurrohman bin Jautsan)
  3. النبي

    أَبِي بَكْرَةَ

    أَبِي عُيَيْنَةَ

    عُيَيْنَةَ

    مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ

    ‘Uyainah

  1. Muhammad bin Bakr
  1. Juz 24 no. hadits 20517 hal. 149

حَدَّثَنَا  عفان بن مسلم، حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ ، عَنِ الْحَسَنِ ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ.

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Hasan
  3. Mubarok
  4. Affan bin Muslim

النبي

أَبِي بَكْرَةَ

الْحَسَنِ

مُبَارَكٌ

عفان  بن مسلم

Tabel 1: Perbandingan Sanad Hadits

No

Rawi

Sanad Hadits

1

البخاري

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

2

البخاري

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

3

الترمذي

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

4

النساءي

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

5

احمد

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

6

احمد


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ ، حَدَّثَنَا عُيَيْنَةُ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي بَكَرَةَ

7

احمد

حَدَّثَنَا  عفان  بن مسلم، حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ ، عَنِ الْحَسَنِ ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

SKEMA SANAD HADITS TENTANG KEPEMIMPINAN PEREMPUAN

RIWAYAT AL-BUKHARI, AT-TIRMIDZI, AN-NASAI DAN AHMAD

النبي

أَبِي بَكْرَةَ

أَبِي عُيَيْنَةَ

 يَحْيَى

عَوْفٌ

عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ

عُيَيْنَةَ

مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ

مُبَارَكٌ

عفان  بن مسلم

الْحَسَنِ

حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ

خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ

مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى

البخاري

الترمذي

النساءي

احمد


  1. 2.        Deskripsi Rowi
    1. 1.    Sanad Hadits riwayat Al-Bukhari pada bab Maghozi dan Fitan

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)        Abu Bakroh[14] Nama                                : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                               : Assaqofi Kunyah                            : Abu Bakrah Tempat tinggal                 : Bashrah Wafat                               : 52 H Jarh wa ta’dil                   : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Hasan[15] Nama                                 : Hasan bin Abi Al-Hasan Yasar Tobaqoh                            : Al-Wustha minat tabi’in Nasab                                : Al-Bashari Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 110 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Jami’an ‘aliman, rofi’an, faqihan, tsiqatan, ma’munan, ‘abidan, nasikan, katsiral ‘ilmi, fasihan, jamilan, wasiman. Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 6 hal.95         3)   ‘Auf[16] Nama                               : ‘Auf bin Abi Jamilah Tobaqoh                           : lam talqa lishahabat Nasab                               : Al-Abdi Al-Hajari Kunyah                            : Abu Sahl Tempat tinggal                 : Bashrah Wafat                               : 146 H Jarh wa ta’dil                   : –       Menurut Abdullah Ahmad bin Hanbal dari bapaknya : Tsiqat –       Menurut Ishak bin Mansyur dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Nasa i : Tsiqat –       Menurut Abu Hatim : Sudduq dan Sholih –       Menurut Muhammad bin Saad  : Tsiqat dan banyak hapalan haditsnya Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 22 hal.437   4)        Utsman bin Haitsam[17] Nama                                : ‘Utsman bin Haitsam bin Jahm bin ‘Isya bin Hassan Al-Mundzir, Tobaqoh                           : Kibaru tabi’ul atba’ Nasab                               : Al-‘Abdi Al-‘Ashri Kunyah                            : Abu ‘Amr Tempat tinggal                 : Bashrah Wafat                               : 210 H Jarh wa ta’dil                   : –       Menurut bu Hatim : Sudduq Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 19 hal.502      

  1. 2.    Sanad hadits riwayat At-Tirmidzi

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Hasan Nama                                 : Hasan bin Abi Al-Hasan Yasar Tobaqoh                            : Al-Wustha minat tabi’in Nasab                                : Al-Bashari Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 110 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Jami’an ‘aliman, rofi’an, faqihan, tsiqatan, ma’munan, ‘abidan, nasikan, katsiral ‘ilmi, fasihan, jamilan, wasiman. Tahdzibul kamal, jilid 6 hal.95   3)      Humaid At-Thawil[18] Nama                                : Humaid bin Abi Humaid Ath-Thowil Tobaqoh                            : Ash-shughra minat tabi’in Nasab                                : Al-Khazai Kunyah                             : Abu ‘Ubaidah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 142 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Ishak bin Manshur dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Ahmad bin Abdillah Al-‘Ijli : Tsiqat –       Menurut Abdurrahman bin Abi Hatim dari bapaknya : Tsiqat la ba’sa bih –       Menurut Abdurrahman bin Yusuf bin Khirasy : Tsiqat, Shaduq Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 7 hal.355   4)      Khalid bin Harits[19] Nama                                 : Khalid bin Al-Harits bin ‘Ubaid bin Sulaiman bin ‘Ubaid bin Sufyan bin Mas’ud bin Sukin Tobaqoh                            : Al-Wustha minal Atba’ Nasab                                : Al-Hujaimi Kunyah                             : Abu ‘Utsman Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 186 H Jarh wa ta’dil                     : –       Menurut Abu Zur’ah : Shadduq –       Menurut Abu Hatim : Seorang Imam yang tsiqat –       Menurut Nasai : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 8 hal.35   5)      Muhammad bin Al-Mutsanna[20] Nama                                 : Muhammad bin Al-Mutsanna bin ‘Ubaid bin Qais bin Dinar Tobaqoh                            : Kibaru tabi’ul atba’ Nasab                                : Al-‘Anazi Kunyah                             : Abu Musa Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 252 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Sholih bin Muhammad Al-Hafidz : Sudduq –       Menurut Abu Hatim : Shalihul Hadits, Shaduq –       Menurut Abu Bakar Al-Khatib : Shaduq, wari’an, fadhilan, ‘aqilan. –       Menurut Nasai : La ba’sa bih Sumber :Tahdzibul kamal, jilid 26 hal. 359

  1. 3.    Sanad hadits riwayat An-Nasai

1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Hasan Nama                                 : Hasan bin Abi Al-Hasan Yasar Tobaqoh                            : Al-Wustha minat tabi’in Nasab                                : Al-Bashari Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 110 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Jami’an ‘aliman, rofi’an, faqihan, tsiqatan, ma’munan, ‘abidan, nasikan, katsiral ‘ilmi, fasihan, jamilan, wasiman. Tahdzibul kamal, jilid 6 hal.95   3)      Humaid At-Thawil Nama                                : Humaid bin Abi Humaid Ath-Thowil Tobaqoh                            : Ash-shughra minat tabi’in Nasab                                : Al-Khazai Kunyah                             : Abu ‘Ubaidah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 142 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Ishak bin Manshur dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Ahmad bin Abdillah Al-‘Ijli : Tsiqat –       Menurut Abdurrahman bin Abi Hatim dari bapaknya : Tsiqat la ba’sa bih –       Menurut Abdurrahman bin Yusuf bin Khirasy : Tsiqat, Shaduq Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 7 hal.355 4)      Khalid bin Harits Nama                                 : Khalid bin Al-Harits bin ‘Ubaid bin Sulaiman bin ‘Ubaid bin Sufyan bin Mas’ud bin Sukin Tobaqoh                            : Al-Wustha minal Atba’ Nasab                                : Al-Hujaimi Kunyah                             : Abu ‘Utsman Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 186 H Jarh wa ta’dil                     : –       Menurut Abu Zur’ah : Shadduq –       Menurut Abu Hatim : Seorang Imam yang tsiqat –       Menurut Nasai : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 8 hal.35 5)      Muhammad bin Al-Mutsanna Nama                                 : Muhammad bin Al-Mutsanna bin ‘Ubaid bin Qais bin Dinar Tobaqoh                            : Kibaru tabi’ul atba’ Nasab                                : Al-‘Anazi Kunyah                             : Abu Musa Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 252 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Sholih bin Muhammad Al-Hafidz : Sudduq –       Menurut Abu Hatim : Shalihul Hadits, Shaduq –       Menurut Abu Bakar Al-Khatib : Shaduq, wari’an, fadhilan, ‘aqilan. –       Menurut Nasai : La ba’sa bih Sumber :Tahdzibul kamal, jilid 26 hal. 359  

  1. 4.    Sanad hadits riwayat Ahmad
  2. Riwayat kesatu

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Abi ‘Uyainah[21] Nama                                 : Abdurrahman bin Jausyan bin Jausyan Tobaqoh                            : Al-wustho minat tabi’in Nasab                                : – Kunyah                             : – Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : – Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : laisa bil masyhur –       Menurut Abu Zur’ah : tsiqat –       Menurut Tirmidzi : shahih Sumber : Tahdzibul kamal, Jilid 17 hal.34 3)      ‘Uyainah[22] Nama                                 : ‘Uyainah bin Abdurrahman bin Jausyan Al- Ghathafani Al-Jausyani Tobaqoh                            : Kibarul Atba’ Nasab                                : Al-Ghathafani Al-Jausyani Kunyah                             : Abu Malik Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : – Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Abbas Adduriyyu dari Yahya bin Ma’in : laisa bihi ba’sun –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Tsiqat –       Menurut Abu Hatim : Sudduq –       Menurut Nasai : Tsiqat –       Menurut Ibnu Hibban : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal , Jilid 23 hal.77     4)      Yahya[23] Nama                                 : Yahya bin Sa’id bin Farrukh Tobaqoh                            : Ash-shugro minal atba’ Nasab                                : Al-Qaththan At-Tamimi Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 198 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Tsiqat, Ma’munan –       Menurut Al-‘Ijli : Tsiqat –       Menurut Abu Zur’ah : Tsiqat –       Menurut Abu Hatim : Tsiqat, Hafidz –       Menurut Nasai : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, Jilid 31 hal.329  

  1. Riwayat kedua

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5         2)      Abi ‘Uyainah Nama                                 : Abdurrahman bin Jausyan bin Jausyan Tobaqoh                            : Al-wustho minat tabi’in Nasab                                : – Kunyah                             : – Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : – Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : laisa bil masyhur –       Menurut Abu Zur’ah : tsiqat –       Menurut Tirmidzi : shahih Sumber : Tahdzibul kamal, Jilid 17 hal.34   3)      ‘Uyainah Nama                                 : ‘Uyainah bin Abdurrahman bin Jausyan Al- Ghathafani Al-Jausyani Tobaqoh                            : Kibarul Atba’ Nasab                                : Al-Ghathafani Al-Jausyani Kunyah                             : Abu Malik Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : – Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Abbas Adduriyyu dari Yahya bin Ma’in : laisa bihi ba’sun –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Tsiqat –       Menurut Abu Hatim : Sudduq –       Menurut Nasai : Tsiqat –       Menurut Ibnu Hibban : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal , Jilid 23 hal.77   4)      Muhammad bin Bakr[24] Nama                                 : Muhammad bin Bakr bin ‘Utsman Tobaqoh                            : Ash-Shugro minal Atba’ Nasab                                : Al-Bursani Kunyah                             : Abu ‘Utsman Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 204 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Hanbal bin Ishak : Shalihul hadits –       Menurut ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darami dari Yahya bin Ma’in, Abu Daud, ‘Ijli : Tsiqat –       Menurut Ibnu Hibban : tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 24 hal.530  

  1. Riwayat ketiga

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Hasan Nama                                 : Hasan bin Abi Al-Hasan Yasar Tobaqoh                            : Al-Wustha minat tabi’in Nasab                                : Al-Bashari Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 110 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Jami’an ‘aliman, rofi’an, faqihan, tsiqatan, ma’munan, ‘abidan, nasikan, katsiral ‘ilmi, fasihan, jamilan, wasiman. Sumber: Tahdzibul kamal, jilid 6 hal.95 3)      Mubarok[25] Nama                                 : Mubarok bin Fadhalah bin Abi Umayyah Tobaqoh                            : Lam talqo lishahabah Nasab                                : Al-Quraisyi Kunyah                             : Abu Fadhlah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 165 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Amr bin ‘Ali saya mendengar ‘Affan  berkata : tsiqat –       Menurut ‘Abdullah bin Ahmad : Dha’iful Hadits –       Menurut ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darami : Laisa bihi ba’sun –       Menurut Abu Bakr bin Abi Khaitsamah : Dhaif –       Menurut Nasai : Dhaif Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 27 hal.180   4)      Affan bin Muslim[26] Nama lengkap                   : Affan bin Muslim bin Abdullah Tobaqoh                            : kibaru tabi’ul atba’ Nasab                                : Bashrah Kunyah                             : Abu ‘Ustman Tempat tinggal                  : Baghdad Wafat                                : 220 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Abu Ahmad bin ‘Adi : Asyharu, Ashdaqu wa Autsaqu –       Menurut Abu Hatim : tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 20 hal.160

  1. 2.      Analisis Sanad dan Rowi

Berdasarkan penelitian terhadap rowi dan sanad hadits dari beberapa riwayat hadits dapat disimpulkan :

  1. Sanad hadits dari riwayat Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad riwayat kesatu dan kedua  menunjukan muttasil artinya periwayatan hadits tidak terputus pada Nabi ini menunjukan bahwa hadits tersebut adalah hadits marfu’.
  2. Kecuali satu Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad (riwayat III) menunjukan tidak muttasil karena pada salah satu sanadnya terdapat satu perawi hadits yaitu Mubarok bin Fadhlah bin Abi Umayah yang diketahui secara tobaqah tidak pernah bertemu dengan sahabat, sehingga mempengaruhi pada jarh wa ta’dil yang menunjukan dha’iful hadits.
  3. Hadits di atas termasuk hadits ahad yakni dalam setiap thabaqah hanya terdiri dari dari tiga, dua atau seorang rawi. Dan berdasarkan klasifikasi hadits ahad, hadits tersebut dikategorikan hadits ahad ‘aziz.

Shahabat Abu Bakrah memberikan hadits tersebut kepada dua orang, yaitu Hasan dan Abi Uyainah. Dari Hasan diterima oleh tiga orang yaitu Mubarok, Humaid dan ‘Auf.  Dari Mubarok hadits diterima oleh ‘Affan bin Muslim dan sampai kepada Ahmad, dari Humaid hadits diterima oleh Khalid bin Harits dan diterima oleh Muhammad bin al-Mutsanna, dari Auf hadits diterima oleh ‘Utsman bin Al-Haitsam dan sampai kepada Al-Bukari, At-Tirmidzi dan An-Nasai. Dari abi ‘Uyainah diterima oleh ‘Uyainah kemudian diterima oleh dua yaitu Muhammad bin Bakr dan Yahya dan sampai kepada Ahmad.

  1. Berdasarkan kaidah kesahihan sanad Hadits, hadits yang diriwayatkan oleh Al-bukari, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ahmad pada hadits kesatu dan kedua menunjukan derajat kualitas hadits shohih, hal ini didasarkan pada kriteria kesahihan hadits yang mencakup:
  2. Dari segi sanad antara perawi satu dengan lainnya pada sanad hadits riwayat Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad riwayat kesatu dan kedua bersambung sanadnya (muttasil)
  3. Dari segi jarh wa ta’dil berdasarkan penilaian  dan komentar para ulama jarh wa ta’dil para perowi hadits yang terdapat pada hadits riwayat Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad riwayat kesatu dan kedua. Dapat dikatakan bahwa mereka termasuk rawi-rawi yang memiliki sifat adil dan dhabit (tsiqah),
  4. Periwayat hadits pada umumnya mereka semua adalah dhabbit (hapal dengan sempurna hadits yang diterimanya dan mampu menyampaikan dengan baik hadits yang dihafalnya itu kepada orang lain).
  5. Terhindar dari syuzuz (ke-syazan), karena semua rowi tsiqat, memiliki lebih dari satu periwayatan dan dari aspek matan tidak mengandung pertentangan.
  6. Tidak terdapat ‘illat  (kecacatan) baik pada sanad maupun matan hadits.
    1. Sedangkan pada hadits ahmad ketiga ditemukan seorang rawi yaitu Mubarrok dalam tobaqohnya ia disebutkan tidak pernah bertemu dengan shahabat. Sehingga dalam jarh wata’dil disebutkan sebagai orang yang lemah dan haditsnya dhoif. Tapi hadits tersebut karena terdapat syahid dalam periwayatan Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan An-Nasai dengan derajat kualitas hadits yang shohih maka hadits ini terangkat yang tadinya dhoif menjadi hasan lighoirihi.
  1. F.     Analisis Matan

Tabel 2: Perbandingan Matan Hadits

No

Rawi

Matan Hadits

1

البخاري

لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

2

البخاري

لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

3

الترمذي

عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

4

النساءي

عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا بِنْتَهُ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

5

احمد

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

6

احمد

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

7

احمد

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ

 Berdasarkan redaksi hadits dari beberapa riwayat diatas terdapat beberapa perbedaan dalam menuliskan redaksi. Hadits Al-Bukhari nampaknya merupakan hadits yang sangat lengkap dalam penulisan redaksi dibanding dengan riwayat hadits lainnya. Hal ini dibisa dipahami dari kandungan hadits Al-Bukhari yang menjelaskan tentang keadaan pada saat hadits itu disampaikan oleh Nabi yaitu yaitu pada waktu perang Jamal tatkala sahabat hampir bergabung dengan para penunggang unta lalu sahabat ingin berperang bersama mereka.- Dia berkata; ‘Tatkala sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa penduduk Persia telah di pimpin oleh seorang anak perempuan putri raja Kisra, beliau bersabda: “Suatu kaum tidak akan beruntung, jika dipimpin oleh seorang wanita.”.

Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Nasai yang menjelaskan perihal ketika Sahabat mendengar dari Rasul  berita kematian Kisra, kemudian Rasul bertanya tentang siapa yang menjadi penggantinya. Kemudian mereka menjawab putrinya yang akan menggantikan Kisra. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Tidak akan beruntung suatu kaum yang menguasakan urusan mereka kepada seorang wanita."

Sedangkan dalam periwayatan Ahmad redaksi hadits langsung menunjukan pada pokok utama hadits yang menjelaskan tentang tidak akan bahagia suatu kaum apabila dipimpin oleh seorang wanita. Berikut beberapa perbedaan redaksi matan hadits :

  1. Riwayat Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan An-Nasai redaksi matan hadits yang digunakan adalah:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

  1. Riwayat Ahmad pada hadits kesatu dan kedua redaksi matan hadits yang digunakan adalah:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

  1. Riwayat Ahmad pada hadits yang ketiga redaksi matan hadits yang digunakan adalah:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ

Dari ketiga matan hadits diatas perbedaan terlihat dari penggunaan kata wallauw amrahum, asnadu amrahum ila, dan tamlikuhum, yang mempunyai arti menyerahkan, menyandarkan, menguasakan urusan. Meskipun terdapat perbedaan redaksi satu sama lain dalam hadits di atas, tidak terdapat pertentangan dari segi makna matan. Secara umum hadits diatas menyampaikan satu hal tentang tidak akan bahagianya suatu kaum apabila dipimpin oleh seorang wanita.

  1. G.    Syarah Hadits

Syarah hadits yang digunakan dalam mengkaji hadits digunakan dua syarah, yaitu hadits turotsi dan hadits kontemporer. Adapun kitab yang digunakan dalam syarah turotsi adalah subulus salam. Sedangkan rujukan yang digunakan dalam hadits kontemporer adalah buku wawasan Al-Quran sebagai sumber pengambilan hadits untuk takhrij.

  1. 1.    Syarah Turotsi

Subulus salam

وعن أبي بكرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة” رواه البخاري فيه دليل على عدم جواز تولية المرأة شيئا من الأحكام العامة بين المسلمين وإن كان الشارع قد أثبت لها أنها راعية في بيت زوجها وذهب الحنفية إلى جواز توليتها الأحكام إلا الحدود وذهب ابن جرير إلى جواز توليتها مطلقا والحديث إخبار عن عدم فلاح من ولي أمرهم امرأة وهم منهيون عن جلب عدم الفلاح لأنفسهم مأمورون باكتساب ما يكون سببا للفلاح

  Dan dari Abi Bakroh RA dari Nabi SAW : tidak akan beruntung suatu kaum menyerahkan urusan mereka (kepemimpinan) kepada perempuan. Diriwayatkan oleh Bukhori hal ini merupakan dalil atas tidak bolehnya kepemimpinan kepada perempuan hukum yang umum diantara kaum muslimin, syara  menetapkan pada kaum perempuan, bahwa perempuan ditetapkan sebagai pemimpin di rumah suaminya. Dan berpendapat hanafi tentang bolehnya menyerahkan hukum-hukum pada perempuan kecuali masalah hudud. Sedangkan ibnu jarir berpendapat bahwa bolehnya menyerahkan kepemimpinan pada perempuan secara mutlak dan hadits menerangkan tentang tidak akan beruntung kepemimpinan urusan mereka kepada perempuan, mereka terhalang dari keberuntungan, karena usaha yang mereka lakukan tidak menyebabkan keberuntungan[27].

  1. 2.    Syarah kontemporer

Apakah wanita memiliki hak-hak dalam bidang politik? Paling tidak ada tiga alasan yang sering dikemukakan sebagai larangan keterlibatan mereka.

  1. Ayat Arrijalu qawwamuna ‘alan-nisa (lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita) (QS. An-Nisa ayat 34)
  2. Hadits yang menyatakan bahwa akal wanita kurang cerdas dibandingkan dengan akal lelaki: keberagamaanya pun demikian.
  3. Hadits yang mengatakan: lan yaflaha qaum wallauw amrahum imra’at (tidak akan berbahagia satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan).

Ayat dan hadits di atas menurut mereka mengisyaratkan bahwa kepemimpinan hanya untuk kaum lelaki. Al-Qurtubhi dalam tafsirnya menulis tentang makna ayat di atas:

 الرجال يقدمون بالنفقة عليهن والدب عنهن وايضا فان فيهم الحكام والامراء ومن يغزو وليس ذلك في النساء

para lelaki (suami) didahulukan (diberi hak kepemimpinan, karena lelaki berkewajiban memberikan nafkah kepada wanita dan membela mereka, juga (karena) hanya lelaki yang menjadi penguasa, hakim, dan juga ikut bercampur. Sedangkan semua itu tidak terdapat pada wanita. Selanjutnya penafsir ini, menegaskan bahwa:

ان يقوم الرجال بتدبيرها وتاءديبها وامساكها في بيتها ومنعها من البروز وان عليها طاعته وقبول امره ما لم تكن معصية

Ayat ini menunjukan bahwa lelaki berkewajiban mengatur dan mendidik wanita, serta menugaskannya berada di rumah dan melarangnya keluar. Wanita berkewajiban menaati dan melaksanakan perintahnya selama itu buka perintah maksiat. Pendapat ini diikuti oleh banyak mufasir lainnya. Namun, sekian banyak mufasir dan pemikir kontemporer melihat bahwa ayat di atas tidak harus dipahami demikian, apalagi ayat tersebut berbicara dalam konteks kehidupan berumah tangga. Seperti dikemukakan sebelumnya, kata ar-rijal dalam ayat ar-rijalu qawwamuna ‘alan-nisa, bukan berarti lelaki secara umum, tetapi adalah “suami” karena konsiderans perintah tersebut seperti ditegaskan pada lanjutan ayat adalah karena mereka (para suami) menafkahkan sebagian harta untuk isteri-isteri mereka. Seandainya yang dimaksud dengan kata “lelaki” adalah kaum pria secara umum, tentu konsideransnya tidak demikian. Terlebih lagi lanjutan ayat tersebut secara jelas berbicara tentang para isteri dan kehidupan rumah tangga. Ayat ini secara khusus akan dibahas lebih jauh ketika menyajikan peranan, hak, dan kewajiban perempuan dalam rumah tangga Islam. Adapun mengenai hadits, “tidak beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan”, perlu digaris bawahi bahwa hadits ini tidak bersifat umum. Ini terbukti dari redaksi hadits tersebut secara utuh, seperti diriwayatkan Bukhari, Ahmad, An-Nasai dan At-Tirmidzi melalui Abu Bakrah.

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً  (رواه البخاري والنسائ والترمذي واحمد)

Ketika Rasulullah Saw. Mengetahui bahwa masyarakat Persia mengangkat Putri Kisra sebagai penguasa mereka, beliau bersabda, “Tidak akan beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.” (diriwayatkan oleh Bukhari, An-Nasa’I dan Ahmad melalui Abu Bakrah)  Jadi sekali lagi hadits tersebut di atas ditujukan kepada masyarakat Persia ketika itu, bukan terhadap semua masyarakat dan dalam semua urusan. Kita dapat berkesimpulan bahwa, tidak ditemukan satu ketentuan agama pun yang dapat dipahami sebagai larangan keterlibatan perempuan dalam bidang politik atau ketentuan agama yang membatasi bidang tersebut hanya untuk kaum lelaki. Disisi lain, cukup banyak ayat dan hadits yang dapat dijadikan dasar pemahaman untuk menetapkan adanya hak-hak tersebut. Salah satu ayat yang sering dikemukakan oleh para pemikir Islam berkaitan dengan hak-hak politik kaum perempuan adalah surat At-Taubah ayat 71:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٧١)

 “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.   Secara umum ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama antara lelaki dan perempuan untuk berbagai bidang kehidupan yang ditunjukan dengan kalimat “menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah yang munkar”. Pengertian kata “aulia” mencakup kerja sama, bantuan, dan penguasaan; sedangkan pengertian yang terkandung dalam frase “menyuruh mengerjakan yang makruf” mencakup segala segi kebaikan dan perbaikan kehidupan, termasuk memberikan nasehat atau kritik kepada penguasa, sehingga setiap lelaki dan perempuan muslim hendaknya mengikuti perkembangan masyarakat agar masing-masing mampu melihat dan member saran atau nasehat untuk berbagai bidang kehidupan. Menurut sementara pemikir, sabda Nabi Saw yang berbunyi,

من لم  يهتم  بامر المسلمين فليس منهم

Barangsiapa yang tidak memperhatikan kepentingan (urusan) kaum Muslim, maka ia tidak termasuk golongan mereka.Hadits ini mencakup kepentingan atau urusan kaum muslim yang dapat menyempit atau meluas sesuai dengan latar belakang dan tingkat pendidikan seseorang, termasuk dibidang politik. Disisi lain, Al-Qur’an juga mengajak umatnya (lelaki dan perempuan) agar bermusyawarah, melalui “pujian tuhan kepada mereka yang melakukannya”.

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣٨)

 “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. (QS. Asy-Syura : 38)   Ayat ini dijadian dasar oleh para ulama untuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi setiap lelaki dan perempuan. Syura (musyawarah) menurut Al-Qur’an hendaknya merupakan salah satu prinsip pengelolaan bidang-bidang kehidupan bersama, termasuk kehidupan politik. Ini dalam arti bahwa setiap warga Negara dalam hidup bermasyarakat dituntut untuk senantiasa mengadakan musyawarah.  Sejarah Islam juga menunjukan betapa kaum perempuan tanpa kecuali terlibat dalam bidang kemasyarakatan. Al-Qur’an menguraikan permintaan para perempuan di zaman Nabi Saw untuk melakukan bai’at (janji setia kepada Nabi dan ajarannya), sebagaiaman disebut dalam surat Al-Mumtahanah ayat 12. Sementara pakar agama Islam menjadikan bai’at para perempuan sebagai bukti kebebasan untuk menentukan pandangan berkaitan dengan kehidupan serta hak untuk mempunyai pilihan yang berbeda dengan pandangan kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, bahkan terkadang berbeda dengan pandangan suami dan ayah mereka sendiri. Kenyataan sejarah menunjukan sekian banyak wanita yang terlibat pada persoalan politik praktis, Ummu Hani misalnya dibenarkan sikapnya oleh Nabi Muhammad Saw. Ketika memberikan jaminan keamanan kepada sebagian orang musyrik (jaminan keamanan merupakan salah satu aspek bidang politik). Bahkan isteri Nabi Saw sendiri, yakni Aisyah r.a. memimpin langsung peperangan melawan Ali bin Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan kepala Negara. Dan isu terbesar dalam peperangan tersebut adalah suksesi setelah terbunuhnya khalifah ketiga Utsman bin Affan. Peperangan ini dikenal dalam sejarah Islam dengan nama perang unta (656M). keterlibatan Aisyah r.a. bersama sekian banyak para sahabat Nabi dan kepemimpinannya dalam peperangan itu, menunjukan bahwa beliau bersama para pengikutnya membolehkan keterlibatan perempuan dalam bidang politik praktis sekalipun. Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap orang, termasuk kaum wanita, mereka mempunyai hak untuk bekerja dan menduduki jabatan tertinggi, kendati ada jabatan yang oleh sebagian ulama dianggap tidak boleh diduduki oleh kaum wanita, yaitu jabatan kepala Negara (Al-Imamah Al-‘Udzma) dan hakim, namun perkembangan masyarakat dari saat ke saat mengurangi pendukungan larangan tersebut, khususnya persoalan kedudukan perempuan sebagai hakim. Dalam beberapa kitab hukum Islam, seperti Al-Mughni, ditegaskan bahwa setiap orang yang memiliki hak untuk melakukan sesuatu, maka sesuatu itu dapat diwakilkan kepada orang lain, atau menerima perwakilan dari orang lain. Atas dasar kaidah di atas, Dr. Jamaluddin Muhammad Mahmud berpendapat bahwa berdasarkan  kitab fiqih – bukan hanya sekadar pertimbangan masyarakat –  kita dapat menyatakan bahwa perempuan dapat bertindak sebagai pembela maupun penuntut dalam berbagai bidang. Tentu masih banyak lagi yang dapat dikemukakan mengenai hak-hak perempuan untuk berbagai bidang. Namun, kesimpulan akhir yang dapat ditarik adalah bahwa mereka adalah Syaqaiq Ar-Rijal (saudara sekandung kaum lelaki), sehingga kedudukan serta hak-haknya hampir dapat dikatakan sama. Kalaupun ada perbedaan yang dibebankan Tuhan kepada masing-masing jenis kelamin, sehingga perbedaan yang ada tidaklah mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan daripada yang lain:

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. An-Nisa : 32)[28]

KESIMPULAN

 

Berdasarkan penelitan terhadap hadits tentang kepemimpinan perempuan, baik ditinjau dari analisis sanad, rowi, dan syarahnya. Maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dilihat dari segi sanad : para perowi hadits pada sanad yang diambil oleh para penyusun kitab hadits (mudawin) yaitu Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad dalam hadits tentang kepemimpinan di atas dapat dikatakan bahwa antara rowi yang satu dengan rowi yang sebelum atau sesudahnya dimungkinkan sejaman (Mu’asharah) dan saling bertemu (Liqa’). Sehingga terdapat keterikatan guru dan murid, maka semua sanad hadits tersebut dapat dikatakan bersambung (Muttashil). Kecuali satu hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, terdapat satu rawi hadits yaitu Mubarok bin Fadhlah bin Abi Umayah yang diketahui tidak pernah bertemu dengan sahabat.
  2. Dilihat dari segi Jarrah dan Ta’dil rowi : berdasarkan penilain dan komentar para ulama Jarrah wa Ta’dil, para perowi hadits yang terdapat pada sanad yang digunakan oleh penyusun kitab hadits (Mudawin), yaitu Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad. Dapat dikatakan bahwa mereka termasuk rawi-rawi yang yang memiliki sifat adil dan dhabit (tsiqah), atau pada sebagian rawi sekurang-kurangnya dinilai shaduq (benar) dan terpercaya. Walaupun ada seorang rowi yaitu Mubarok bin Fadhlah pada hadits riwayat Ahmad pada hadits ketiga dinilai dhoif.
  3. Dilihat dari redaksi ketujuh matan hadits yang telah ditakhrij di atas (yaitu riwayat Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad), dapat dikatakan bahwa redaksi matan yang terdapat pada hadits tersebut meskipun terdapat perbedaan pada sebagian teks hadits, namun perbedaannya hanya sedikit dan tidak signifikan.
  4. Dilihat dari tinjauan syarah Turatsi maupun kontemporer, dapat disimpulkan sebagai berikut :

–          Berdasarkan syarah turotsi hadits ini merupakan dalil tentang tidak bolehnya kepemimpinan diserahkan kepada perempuan. Meskipun Hanafi membolehkan perempuan jadi pemimpin kecuali dalam masalah hudud –          Sedangkan para pemikir kontemporer, memperbolehkan perempuan menjadi pemimpin. Hadits di atas secara konteks hanya diperuntukan pada pada saat dimana  putrinya raja Kisra diangkat menjadi pemimpin di Persia. Dan hadits tersebut dengan konteks zaman sekarang sudah berbeda. Kaum perempuan pada zaman sekarang dapat disejajarkan dengan kaum laki-laki yang telah mendapatkan kesamaan hak dalam mendapatkan pendidikan. Sehingga hal ini membuka peluang secara terbuka bagi kaum perempuan untuk menentukan pandangan, bekerja, dan menduduki jabatan. Disamping secara historis pada zaman nabi ada sebagian wanita yang terlibat pada persoalan politik praktis dan terlibat dalam peperangan.

DAFTAR PUSTAKA

  Al-Asqolani, Al-Hafidz bin Hajar, tt. Bulughul Marom, Indonesia : Maktabah Daru Ihyail kutubil arabiyah.   Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il, 1998, Shahih Al-Bukhari,Riyadh: Baitul Afkar   Al-Mazi, Jamaludin Abi Al-Hajjaj Yusuf, Tahdzibul Kamal Fi Asmair-Rijal, Bairut : Muassasah Risalah   An-Nasai, Abi Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali, tt., Sunan An-Nasai, Riyadh: Baitul Afkar   Ash-Shan’ani, Muhammad bin Isma’il Al-Amiru Al-Yamani, 1995M/1415H, Subulus salam syarah bulughul maram, Riyadh: Maktabah Nazzar Musthafa Al-Baz   At-Tirmidzi, Abi ‘Isa Muhammad bin ‘Isya bin Saurah, tt., Jami’ut Tirmidzi, Riyadh: Baitul Afkar   Hanbal, Imam Ahmad, 1995, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Bairut : Muassasah Risalah   Rahman, Fatchur, 1987, Ikhitsar Musthalahul Hadits, Bandung : PT. Al-Ma’arif   Syihab, Muhammad Quraisy, 1998, Wawasan Al-Qur’an:Tafsir Maudhu’I Atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung:Penerbit Mizan   Wensink, 1936,  Al-Mu’jamul Mufahros, Leiden: Maktabah Barbal   Software Rujukan :–       Al-Mausu’ah Hadits Syarif, Global Islamic Software Company. –       Hadits Sembilan Imam (terjemah indonesia), Lidwa pustaka i-software. –       Maktbah Syamilah –       Jawami’ul Kalim


[1] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits, (Bandung:PT.Al-Ma’arif, 1987), cet. Ke-5, hlm.1
[2] Kutipan ini disampaikan dalam perkuliahan dikelas pada mata kuliah Hadits oleh Dr. H. M. Anton Athoillah, MM
[3] Quraisy Syihab, Wawasan Al-Qur’an : Tafsir Maudhu’I Atas Pelbagai  Persoalan Umat, (Bandung:Penerbit Mizan, 1998), cet.VIII, hal.313
[4] Ibid, hal.314
[5] Al-Hafidz bin Hajar Al-Asqolani, Bulughul marom, (Indonesia:Maktabah Daru  Ihyail Kutubil Arabiyah, tt.)  hal.749
[6] Wensink, Mu’jam Mufahras lil Alfadzi Hadits Nabawi. (Leyden : Maktabah Barbl, 1936), hal.196
[7] Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, (Riyadh: Baitul Afkar, 1998), hal.838
[8] Ibid, hal.1356
[9] Abi ‘Isa Muhammad bin ‘Isya bin Saurah At-Tirmidzi,  Jami’ut Tirmidzi, (Riyadh: Baitul Afkar, tt.), hal.374
[10] Abi Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali An-Nasai, Sunan An-Nasai, (Riyadh: Baitul Afkar, tt.), hal.546
[11] Imam Ahmad bin Hanbal,  Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, (Bairut : Muassasah Risalah, 1995), hal.43
[12] Ibid, hal.120
[13] Ibid, hal.149
[14] Jamaludin Abi Al-Hajjaj Yusuf Al-Mazi,  Tahdzibul Kamal Fi Asmair-Rijal, (Bairut : Muassasah Risalah, tt.), hal.16
[15] Ibid, hal.95
[16] Ibid, hal.437
[17] Ibid, hal.502
[18] Ibid, jilid 7 hal.355
[19] Ibid, jilid 8 hal.35
[20] Ibid, jilid 26 hal.359
[21] Ibid, jilid 17 hal.34
[22] Ibid, jilid 23 hal.77
[23] Ibid, jilid 31 hal.329
[24] Ibid, jilid 24 hal.530
[25] Ibid, jilid 27 hal.180
[26] Ibid, jilid 20 hal.160
[27] Muhammad bin Isma’il Al-Amiru Al-Yamani Ash-Shan’ani, Subulus salam syarah bulughul maram, (Riyadh: Maktabah Nazzar Musthafa Al-Baz, 1995 M/1415H), hal.1924
[28] Op. cit., Quraisy Syihab, hal.313-318
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 23, 2011 in Uncategorized

 

selamat datang

blog ini sebagai media penulis mengungkapkan gagasan pikiran

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 23, 2011 in Uncategorized

 

PEMIKIRAN FILSAFAT SEKULARISME

PEMIKIRAN FILSAFAT SEKULARISME

 

  1. 1.    Pendahuluan

Filsuf-sosiolog Prancis Auguste Comte pada pertengahan abad ke-19 telah membayangkan adanya kebangunan ilmu dan keruntuhan agama, dan ia percaya bahwa menurut logika sekular perkembangan filsafat dan ilmu barat, masyarakat berevolusi dan berkembang dari tingkat primitif ke tingkat modern. Ia pun mengamati bahwa, ditilik  dari aspek perkembangannya, metafisika adalah transisi dari theology ke ilmu pengetahuan. Dalam abad itu juga, filsuf-penyair Jerman Fiedrich nietzshe meramalkan melalui tokohnya Zarathustra bahwa – setidak-tidaknya untuk duniat Barat – Tuhan telah mati. Para filsuf, penyair dan pengarang Barat telah memperkirakan datangnya peristiwa itu dan menyambutnya sebagai persiapan akan tibanya suatu dunia yang “terbebaskan”, tanpa “Tuhan” dan tanpa “agama” sama sekali[1]. Barangkali inilah yang melatarbelakangi timbulnya sekularisme dalam dunia barat. Karena agama dianggap tidak bisa menyelesaikan persoalan manusia pada saat itu.            

Walaupun agama kristen pada mulanya lahir di Timur, namun warna Kristiani amat tebal menyelimuti kehidupan dunia Barat. Keadaan ini dimungkinkan sejak Kaisar Romawi, Konstantin yang agung (280-337), melegalisasi agama tersebut dalam wilayah imperiumnya serta mendorong penyebarannya sehingga merata di benua Eropa sampai sekarang hingga getarannya masih terasa hingga kini. Terutama di abad pertengahan, warna Kristiani menyelimuti kehidupan Barat, baik politik, ekonomi, sosial dan budaya pada umumnya. Namun warna tersebut sejak akhir abad pertengahan mulai menipis, terus menipis hingga pertengahan abad ini. Warna Kristiani tersebut dapat dikatakan mulai menghilang dan diganti dengan warna lain yang amat kontras, inilah warna sekuler.

Sesuai warna baru tersebut, yang telah melenyapkan warna Kristiani secara bertahap oleh para ahli disebut sekularisme. Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang itu, sekularisasi pernah terkristal dalam bentuk aliran dibidang etika dan filsafat yang disebut sekularisasi, yang pertama kali dirumuskan oleh George Jacob Holyoake (1817-1906).

  1. 2.        Pengertian Istilah Sekuler, Sekularisasi dan Sekularisme
  2. A.    Sekuler

Secara leksikologis, kata secular berasal dari bahasa Inggris yang berarti; yang bersifat duniawi, fana, temporal, yang tidak bersifat spiritual, abadi dan sacral, kehidupan diluar biara dan sebagainya[2]. Sedangkan istilah sekuler yang berasal dari kata latin saeculum mempunyai arti ganda, ruang dan waktu. Ruang menunjuk pada pengertian duniawi, sedangkan waktu menunjuk pada pengertian sekarang atau zaman kini. Jadi kata saeculum berarti masa kini atau zaman kini. Dan masa kini atau zaman kini menunjuk pada peristiwa didunia ini, atau juga berarti peristiwa masa kini[3]. Atau boleh dikatakan bahwa makna “sekuler” lebih ditekankan pada waktu atau periode tertentu di dunia yang dipandang sebagai suatu proses sejarah.

Konotasi ruang dan waktu (spatio-temporal) dalam konsep sekuler ini secara historis terlahirkan di dalam sejarah Kristen Barat. Di Barat pada Abad Pertengahan, telah terjadi langkah-langkah pemisahan antara hal yang menyangkut masalah agama dan non agama (bidang sekuler). Dalam perkembangannya, pengertian sekuler pada abad ke-19 diartikan bahwa kekuasaan Gereja tidak berhak campur tangan dalam bidang politik, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Pada waktu itu sudah ada yang menentang sekularisasi, misalnya Robertson dari Brighton, yang pada tahun 1863 mengatakan,”kita mengecap suatu bidang kehidupan sebagai sekuler, dan kemudian agama menjadi hal yang kabur dan tidak riil[4].

  1. B.     Sekularisasi

Pengertian sekularisasi sering diartikan sebagai pemisahan antara urusan negara (politik) dan urusan agama, atau pemisahan antara urusan duniawi dan ukhrowi (akhirat). Sekularisasi, sebagaimana yang telah dikembangkan sejak Abad Pertengahan, menunjukan arah perubahan dan penggantian hal-hal yang bersifat adi-kodrati dan teologis menjadi hal-hal yang bersifat ilmiah, dalam dunia ilmu pengetahuan yang menjadi serba ilmiah dan argumentatif[5].

Selanjutnya sekularisasi menurut Cornelis van Peursen seorang Theolog dari Belanda, didefinisikan sebagai pembebasan manusia”pertama-tama dari agama dan kemudian dari metafisika yang mengatur nalar dan bahasanya”. Itu berari “terlepasnya dunia dari pengertian-pengerian religius dan religius-semu, terhalaunya semua pandangan-pandangan dunia yang tertutup, terpatahkannya semua mitos supranatural dan lambang-lambang suci ‘defatalisasi sejarah’, penemuan manusia akan kenyataan bahwa dia ditinggalkan dengan dunia di tangannya, sehingga dia tidak bisa lagi menyalahkan nasib atau kemalangan atas apa yang ia perbuat dengannya ; manusialah yang mengalihkan perhatiannya lepas dari dunia-dunia di atas sana ke arah dunia sini dan waktu kini[6].

Menurut Surjanto Poepowardojo, pada hakikatnya sekularisasi menginginkan adanya pembebasan tajam antara agama dan ilmu pengetahuan, dan memandang ilmu pengetahuan otonom pada dirinya[7]. Dengan demikian, manusia mempunyai otonomi, sehingga ia dapat berbuat bebas sesuai dengan apa yang ia kehendaki berdasarkan rasio. Atas dasar orientasi ilmiah, manusia berusaha untuk menemukan hal-hal yang baru, dan dengan metode-metode ilmiah empiris yang telah berkembang sejak abad ke-18, manusia menjadi mempunyai kreativitas untuk menangkap dan mengungkapkan realitas yang konkret.

Sekularisasi tidak hanya melingkupi aspek-aspek kehidupan sosial dan politik saja, tetapi juga telah merembes ke aspek kultural, karena proses tersebut menunjukan lenyapnya penentuan simbol-simbol integrasi kultural[8]. Hal ini menunjukan proses historis yang terus menerus yang tidak dapat dibalikkan, dimana masyarakat semakin lama semakin terbebaskan dari nilai-nilai spiritual dan pandangan metafisis yang tertutup. Al-Attas menyebutkan sebagai suatu perkembangan pembebasan dan hasil akhir dari sekularisasi adalah relativisme historis[9]. Oleh karena itu proses sejarah juga sering dikatakan sebagai proses sekularisasi, yang menurut konsep seorang sosiolog Jerman Max Weber, dimaksudkan sebagai pembebasan alam dari noda-noda keagamaan.

  1. C.    Sekularisme

Istilah sekularisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 1846 oleh George Jacub Holyoake yang menyatakan bahwa schularism is an ethical system pounded on the principle of natural morality and in independent of reveald religion or supernaturalism. (sekularisme adalah suatu sistem etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah dan terlepas dari agama-wahyu atau supernaturalisme).

Jika sekularisasi menunjuk kepada suatu proses yang terjadi dalam pikiran orang seorang dalam kehidupan masyarakat dan negara maka sekularisme menunjuk kepada suatu aliran, paham, pandangan hidup, sistem atau sejenisnya yang dianut oleh individu atau masyarakat. H.M.Rasjidi mendefinisikan sekularisme sebagai berikut, Sekularisme adalah nama sistem etika plus filsafat yang bertujuan memberi interpretasi atau pengertian terhadap kehidupan manusia tanpa percaya kepada Tuhan, kitab suci dan hari kemudian[10].

Dalam kamus Al-Mu’jam  Ad-Dauliy Ats-Tsalits Al-Jadid menjelaskan kata ”secularism” sebagai berikut:

“Sebuah orientasi dalam kehidupan atau dalam urusan apapun secara khusus, yang berdiri diatas prinsip bahwa sesungguhnya agama atau istilah-istilah agama itu, wajib untuk tidak intervensi ke dalam pemerintahan. Dengan kata lain, sebuah orientasi yang membuang jauh-jauh makna dari istilah tersebut. Akhirnya, muncul pengertian seperti ini: hanya politik non agamais (Atheis) yang ada di dalam pemerintahan, yaitu sebuah sistem sosial dalam membentuk akhlak, dan sebagai pencetus atas pemikiran wajibnya menegakkan nilai-nilai moral dalam kehidupan modern dan dalam lingkup masyarakat sosial tanpa harus memandang agama”[11].

  1. 3.        Tokoh sekularisme dan Latar Belakang Munculnya Sekularisme
  2. A.     Tokoh Sekularisme

Pendiri sekularisme adalah George Jacob Holyoake kelahiran Birmingham Inggris, anak pekerja kasar[12]. Kendatipun pada mulanya berpendidikan agama, kehidupan remajanya yang diliputi dan ditempa oleh situasi sosial politik di tempat kelahirannya yang keras, sikap Holyoake berubah, dan akhirnya ia kembali terkenal karena sekularismenya. Perlu dicatat bahwa pada mulanya, sekularisme ini belum berupa aliran etika dan filsafat, melainkan hanya merupakan gerakan protes sosial dan politik[13].

  1. B.     Latar Belakang Munculnya Sekularisme

Sekularisme pertama kali muncul di Eropa. Tapi mulai diperhitungkan keberadaannya secara politis bersamaan dengan lahirnya revolusi Perancis tahun 1789 M. berkembang merata ke seluruh Eropa pada abad ke-19 M. kemudian tersebar lebih luas lagi ke berbagai negara di dunia, terutama dalam bidang politik dan pemerintahan, yang pada abad ke-20 M, dibawa oleh penjajah dan missionaris Kristen[14].

Muhammad Al-Bahy menjelaskan bahwa yang menimbulkan munculnya sekularisme:

–       Yang mendorong terjadinya sekularisme pada abad ke-17 dan ke-18 adalah perebutan kekuasaan antara negara dan Gereja. Karena itu, pemisahan antara kedua kekuasaan itu adalah penanggulangan perselisihan baik secara legal atau filosofis.

–       Yang mendorong sekularisme abad ke-19 adalah pembentukan kekuasaan. Karena itu, pengertian sekularisme tidak sama dengan paham pemisahan antara Gereja dan negara, akan tetapi semacam penghapusan paham dualisme dengan penghancuran agama sebagai awal mula untuk mencapai kekuasaan tersendiri, yaitu “kelompok Buruh” atau “sosial” atau “negara” atau “partai”.

–       Penelitian terhadap alam dan kemajuan ilmu pengetahuan telah memberanikan kaum intelek sekuler untuk keluar dari wasiat atau dogma Gereja[15].

Sedangkan Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan, bahwa sebab-sebab kemunculan sekularisme di dunia Barat Masehi dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya: faktor agama, pemikiran, psikologi, sejarah dan realitas kehidupan empiris.

  1. 1.        Masehi menerima dikotomi kehidupan antara Tuhan dan Kaisar

Sesungguhnya didalam agama Masehi terdapat dalil-dalil yang mendukung ajaran sekularisme, atau pemisahan agama dan negara, ataupun antara pemerintahan spiritual dan pemerintahan dunia. Masehi mengakui dualisme kehidupan ini, ia membagi kehidupan itu menjadi dua bagian. Pertama, kehidupan untuk Kaisar dari satu pihak, yang tunduk kepada pemerintahan duniawi, atau pemerintahan negara. Kedua, kehidupan untuk Tuhan dari pihak lain, yang tunduk kepada kekuasaan spritual, yaitu berada dibawah pemerintahan Gereja.

Pembagian ini tergambar dengan jelas dalam perkataan Al-Masih a.s. seperti yang diriwayatkan oleh Injil: “berikanlah Kaisar apa yang menjadi haknya, dan berikan pula kepada Tuhan apa yang menjadi haknya”.

  1. 2.        Masehi tidak memiliki perundang-undangan bagai masalah kehidupan.

Dari sisi lain, Masehi tidak memiliki perundang-undangan tersendiri bagi masalah-masalah yang ada di dalam kehidupan, yaitu perundang-undangan yang berfungsi untuk memantapkan berbagai bentuk interaksi di dalam kehidupan, mengatur hubungan yang ada didalamnya, dan meletakan dasar-dasar standar tertentu yang adil untuk segala aktivitas dalam kehidupan. Agama Masehi hanya memiliki konsep spiritual dan akhlak, yang dimuat didalam nasehat-nasehat Injil dan dalam perkataan-perkataan Al-Masih.

  1. 3.        Kekuasaan Agama Masehi

Bagi sekularisme, apabila ia memisahkan agama Masehi dari negaranya atau memisahkan negaranya dari agamanya, pada dasarnya ia tidak menghilangkan agamanya dan tidak pula mengisolasi kekuasaannya. Sebab, agamanya memiliki kekuasaan tersendiri yang tegak berdiri. Ia mempunyai kekuatan, kedudukan, finansial, dan tokoh-tokoh agama. Dengan demikian terdapat dua kekuasaan didalam Masehi, yaitu kekuasaan agama, yang dijalankan oleh pendeta dan tokoh “Akliurus”, dan juga kekuasaan duniawi, yang dijalankan oleh raja maupun presiden serta para tokoh dan pembantu-pembantu pemerintahan.

  1. 4.        Sejarah Gereja

Sesungguhnya sejarah hubungan gereja dengan ilmu, pemikiran dan kebebasan adalah sebuah sejarah yang menakutkan. Gereja pernah berada dalam kebodohan yang memusuh ilmu pengetahuan, ia juga pernah bergelut dengan khurafat sehingga menentang pemikiran, juga pernah bertindak sewenang-wenang dan menentang kebebasan, pernah berkonspirasi dengan kaum feodalistik menentang rakyat sehingga rakyat pun bangkit melakukakan revolusi terhadapnya. Mereka menuntut kebebasan dari para petinggi pemerintahan secara langsung, dan mereka pun menganggap bahwa pengisolasian agama dari negara adalah sebuah upaya bagi rakyat di dalam menentang keterkungkungan mereka[16].

4. Periodisasi Sekularisme

Untuk lebih memudahkan pemahaman mengenai perkembangan permasalahan tentang sekularisasi dalam kerangka pemikiran kefilsafatan di Eropa, secara garis besar Muhammad Al-Bahy membagi dua periode sekularisme.

–       Periode pertama, periode sekularisme moderat yaitu antara abad ke-17 dan ke-18

–       Periode kedua, periode sekularisme ekstrem, yaitu yang berkembang pada abad ke-19

  1. A.     Periode sekularisme moderat

Pada periode sekularisme moderat, agama dianggap sebagai masalah individu yang tidak ada hubungannya dengan negara, tetapi meskipun demikian, negara masih berkewajiban untuk memelihara geraja, khususnya bidang upeti atau pajak. Dalam pengertian ini, dalam pemisahan antara negara dan gereja, tidak dirampas agama Masehi sebagai agama sekaligus dengan nilai-nilai yang dimilikinya, meskipun ada sebagian ajarannya yang diingkari, dan menuntut penundukan ajaran-ajaran agama Masehi kepada akal, prinsip-prinsip alam, dan perkembangannya. Penganut pendapat demikian dikenal dengan penganut aliran “Deisme”  yang mengakui adanya Tuhan sebagai asal muasal alam, akan tetapi mengingkari adanya mukjizat, wahyu dan menggolongkanTuhan kedalam “alam”; Tuhan menyerahkan alam kepada nasibnya sendiri. Diantara para penganut  aliran ini terdapat:

–            Francois Voiltare (1694-1778), filsuf Perancis yang digolongkan sebagai penganut agama alami

–            Lessing (1729-1781) , filsuf Jerman yang berpendapat bahwa agama bukanlah terminal terakhir, melainkan sebagai periode batu loncatan menuju kehidupan manusia. Agama berstatus sebagai medan perkembangan. Tuhan bermaksud memberikan petunjuk manusia kepada kebenara, sedang kebenaran abadai tidak ada, yang ada hanyalah usaha menuju kepada kebenaran.

Filsuf-filsuf lain yang termasuk dalam periode sekularisme moderat:

–            John Locke (1632-1704), filsuf Inggris yang berpendapat bahwa negara yang modern telah menghapuskan semua wasiat Gereja. Karena memandang kepercayaan agama sebagai hasil pemikiran perorangan, dan persaudaraan dalam agama sebagai hubungan bebas yang harus dipikul dan dipertahankan selama tidak mengancam kebinasaan dan kehancuran undang-undang negara.

–            G.W. Leibniz (1646-1716), filsuf Jerman. Ia sependapat dengan Locke, bahwa agama menjadi masalah perorangan yang hanya berurusan dengan individu saja tanpa ada suatu hubungan dengan negara. Bahkan dialah yang menganjurkan penghapusan sebagian ajaran agama Masehi yang tidak sesuai dengan akal.

–            Thomas Hobbes (1588-1679), filsuf Inggris yang berpendapat bahwa negara itu merupakan “akad” atau kesepakatan dimana negara berkewajiban menggiring manusia secara paksa ke dalam akad tersebut. Karena itulah Hobbes menekankan pentingnya kewajiban negara. Ia menjadikan negara sebagai sebagai sumber undang-undang, moral dan agama. Bahkan untuk pemeliharaan kekuatan dan kewibawaan negara, dianjurkan agar negara berbuat sesuai dengan apa yang disenangai atau dikehendakinya.

–            David Hume (171-1776), filsuf Inggris yang ateis. Ia mengingkari adanya roh yang kekal, tetapi tetap menganggap agama sebagai kepercayaan, agama menurut pandangannya bukanlah suatu ilmu tetapi hanya institusi belaka.

–            J.J. Rousseau (1712-1778), filsuf Perancis dan seorang humanis non materialis. Dalam buku Emil, Rousseau memfokuskan alam sebagai faktor pemisah sebagaimana ia menjadikan agama dalam pendidikan merupakan suatu hal yang bertentangan dengan alam. Menurut pendapatnya, sebaiknya anak tidak boleh mengikuti golongan agamis, tetapi anak memilihi sendiri berdasarkan atas akal murninya. Rousseau tidak menerima paham ateisme, tetapi ia juga menolak bukti-bukti metafisis tentang adanya Tuhan yang diajarkan ilmu ketuhanan Gereja.

Pokok pemikiran yang mendorong adanya pemisahan antara Gereja dan negara, atau antara agama dan negara, pada sekularisme periode pertama ini yaitu:

–            Keutamaan untuk menciptakan kewibawaan negara dengan kewibawaan yang mutlak, dalam rangka menghadapi kekuasaan Gereja, beserta wasiat-wasiatnya yang telah diberikan kepada manusia sejak abad pertengahan, sebagaimana pendapat Hobbes

–            Tuduhan terhadap agama Masehi dengan ajaran-ajarannya yang jauh dari akal sehat – seperti kepercayaan tentang Trinitas, kepercayaan tentang tabiat Tuhan dan manusia yang dimiliki Al-Masih; sebagaimana pendapat Locke dan Leibniz, yaitu dalam usahanya membersihkan agama Masehi berdasarkan logika akal sehat.

–            Menurut ilmu pendidikan, agama bertentangan dengan “alam”, seperti yang diutarakan Rousseau berdasarkan ajaran-ajaran agama Masehi yang berupa dosa turunan.

–            Anggapan bahwa agama itu suatu perkembangan, bukan tujuan terakhir, dengan demikian kebenarannya adalah kebenaran yang dapat berubah, sebagaimana pendapat Lessing.

  1. B.     Periode Sekularisme Ekstrem

Jika pada periode sekularisme moderat, agama masih diberi tempat dalam suatu negara, maka pada sekularisme ekstrem, agama tidak hanya menjadi urusan pribadi, akan tetapi justeru negara memusuhi agama, begitu pula negara memusuhi orang-orang yang beragama. Periode kedua, atau periode sekularisme ekstrem pada abad ke-19 dan 20 ini merupakan periode materialisme atau disebut sebagai Revolusi Sekuler.

Filsuf-filsuf yang termasuk dalam periode sekularisme ekstrem:

–            Ludwig Feurbach (1804-1872), filsuf Jerman dan termasuk pencetus revolusi sekuler terpenting pada abad ke-19. Menurut pendapatnya, manusia dapat mengkaji periode perpindahan dari agama alamiah yang bersih dan jauh dari pengaruh agama langit menuju materialisme ekstrem. Manusia itu merupakan wujud Tuhan tetapi bukan Allah, dan agama yang baru adalah politik, bukan agama Masehi. Karena itu politik harus dijadikan agama. Allah dan agama keduanya bukanlah dasar negara, tetapi dasarnya adalah manusia dan kebutuhan. Dengan demikian negara adalah kandungan semua kenyataan, yakni alam keseluruhan atau kemanusiaan yang memelihara kenyataan manusia. Dengan begitu agama menjadi musuh negara, dan “ateis praktis ada berkaitan dengan negara”.

–            Karl Marx (1818-1883),  juga seorang filsuf Jerman yang amat dekat dengan kawannya, Engels, sehingga beberapa pandangannya pun merupakan buah pikiran bersama. Marx seorang Revolusioner. Ada tiga prinsip pandangan Marx tentang materi:

–            Prinsip yang menghidupkan perkembangan secara terus menerus,

–            Prinsip menghilangkan kontradiksi

–            Prinsip kemajuan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, walaupun tidak lebih baik.

Marx dianggap revolusioner, dan bukan filsuf, karena filsafatnya sebagai alat untuk menuju   politik. Secara garis besar pandangan Marx dan Engels:

–            Materialisme historis dialektis

–            Anti-Tuhan dan menggunakan metode ilmiah dalam mencari bukti kebenarannya

–            Memerangi sistem kelas manusia, untuk mencapai kelas masyarakat yang tidak berkelas.

–                 Lenin (1870-1924), orang yang mempraktekan marxisme. Ia mengubah marxisme menjadi akidah bagi partai (golongan) yang kemudian marxisme disebut Bolsjewisme di dunia politik, atau dikenal sebagai materialisme produktif dalam dunia filsafat. Dengan demikian, Bolsjewisme nampak sebagai “agama baru” sebagai pengganti dari “agama masehi”. Menurut Lenin, agama itu candu rakyat, yang menutup kemajuan berfikir. Meskipun Lenin setuju dengan pendapat bahwa “agama itu urusan perorangan”, akan tetapi untuk partai (golongan), anggotanya harus anti-Tuhan, karena anggotanya yang masih beragama menjadi musuh bebuyutan bangsa. Negara harus netral, dalam arti negara tidak memperhatikan agama, tidak ada  hubungannya dengan agama. Agama tidak ada nilainya bagi penduduk, maka tidak perlu menanyakan aliran agama, dan kenetralan terhadap agama itulah pemisah sempurna antara negara dan Gereja.

Beberapa pokok pikiran yang dapat diambil dari periode sekularisme ekstrem:

–            Sekularisme Feuerbach mencerminkan aliran humanisme yang anti-Tuhan dan menghendaki permusuhan agama. Bukan lagi pemisahan antara agama dan negara sebagaimana pada periode pertama, dan ia menghendaki penempatan perkumpulan buruh pada proposisi Tuhan dalam ibadah.

–            Sekularisme Marx merupakan materialisme historis ateis, yang bertujuan untuk menghancurkan agama sebagai permulaan penting berdirinya alam, dimana manusia merupakan pemilik dirinya dan kewibawaan sosial dan negara, dan posisi pembentukan (sosial dan negara) terhadap individu sebagai Tuhan yang disembah oleh individu-individu para pemilik.

–            Sekularisme Lenin berakhir dengan permusuhan agama Masehi sebagai agama, dan pembentukan Bolsjewisme, dan agama baru ini harus mewujudkan alam nyata yaitu “golongan” atau “partai”[17].

  1. 5.        Ajaran Sekularisme

Istilah sekularisme pertama kali diperkenalkan pada tahun 1846 oleh George Jacub Holyoake yang menyatakan bahwa schularism is an ethical system pounded on the principle of natural morality and in independent of reveald religion or supernaturalism[18]. (sekularisme adalah suatu sistem etik yang didasarkan pada prinsip moral alamiah dan terlepas dari agama-wahyu atau supernaturalisme). Mula-mula gerakan ini dirancang untuk memusuhi kekuasaan yang mutlak dari gereja. Tapi dalam perkembangannya gerakan ini juga memusuhi agama-agama apapun, baik yang mendukung ilmu pengetahuan ataupun yang memusuhinya[19].

Dalam perkembangan selanjutnya, sekularisme memiliki beberapa paham atau ajaran yang terus berkembang sampai sekarang. Bahkan sejumlah negara secara berani dan transparan mendeklarasikan dirinya sebagai sebuah negara sekuler. Dalam sistem pemerintahannya, ia menyusun undang-undang yang mewajibkan seluruh masyarakatnya menghilangkan simbol-simbol keagamaan karena hal ini dianggap sebagai pemicu pertentangan antar umat beragama.

Berikut ini dijelaskan mengenai beberapa paham/ajaran sekularisme, yaitu:

  1. 1.      Paham Sekuler tentang Etika

Sebagai suatu sistem etika yang didasarkan atas prinsip-prinsip moralitas alamiah dan bebas dari agama wahyu atau supranatural, pandangan sekularisme harus didasarkan atas kebenaran ilmiah, kebenaran yang bersifat sekuler, tanpa ada kaitannya dengan agama atau metafisika. Sekularisme lahir disaat pertentangan antara ilmu (sains) dan agama sangat tajam (agama – kristen). Ilmu tampil dengan independensinya yang mutlak, sehingga bersifat sekuler. Kebenaran ilmiah yang diperoleh melalui pengalaman yang telah menghasilkan kemajuan ilmu-ilmu sekuler seperti matematika, fisika dan kimia telah berhasil membawa kemajuan bagi kehidupan manusia. Justeru kebenaran ilmiah itu harus mendasari etika, tingkah laku, dan perikehidupan manusia. Disini, tampak adanya pengaruh positivisme dan sekularisme. Bahkan kalau dilacak lebih mendalam, sekularisme dibidang etika dan menerapkan kebenaran ilmiah padanya, sudah dikemukakan oleh Voiltaire (1694-1778) seorang filsof Perancis yang pernah mengemukakan bahwa tuntunan hidup kesusilaan tidak bergantung pada pandangan metafisika dan agama, tetapi harus sesuai dengan tuntunan akal dan rasio.

  1. 2.      Paham sekuler tentang Agama

Agama dalam pandangan hidup sekularisme adalah sesuatu yang berdiri sendiri. Prinsip sekularisme, dalam hal ini adalah theisme dan atheisme, sama-sama tidak mendapatkan dibuktikan dengan pengalaman. Dengan begitu, ia berada di luar pola pemikiran sekularisme. Theologi memberikan interpretasi tentang dunia yang tidak dikenal, sedangkan sekularisme tidak mau tahu sama sekali tentang dunia seperti ini serta interpretasinya. Namun, telah berkembang suatu paham yang menekankan bahwa karakter-karakter agama itu berbeda. Misalnya karakter Agama Islam berbeda dengan agama lain, penganut agama lain. Menurut paham ini, agama Islam akan mudah menerima netralitas negara terhadap pluralitas agama. Namun, Islam mempunyai karakter tersendiri yang berbeda.Samuel Huntington mendukung pula paham ini. Misalnya, dikatakan bahwa orang Kristen Barat tidak menuntut diberlakukannya hukum kristen dibidang pemerintahan dan ekonomi. Keterlibatan agama hanya sebatas nilai moral dan acara ritual tertentu saja. Namun, konsep netralitas seperti itu akan sulit diterapkan untuk agama Islam.

Sekularisme memandang bahwa simbol-simbol agama harus dihilangkan karena hal ini dapat memicu terjadinya pertentangan atau perpecahan. Perancis,misalnya dengan tegas, mendeklarasikan negaranya sebagai negara sekuler dan berusaha terus menerus untuk menghilangkan simbol-simbol itu, baik untuk umat kristiani maupun umat Islam.

  1. 3.      Paham sekuler tentang prinsip-prinsip rasio dan kecerdasan

Prinsip-prinsip dan kecerdasan ini sangat dijungjung tinggi sekularisme karena kelanggengan sekularisme sangat bergantung pada prinsip ini, sebagaimana ilmu pengetahuan pun ditopang oleh prinsip ini. Oleh karena itu, sekularisme pun sekaligus meyakini bahwa ilmu pengetahuan mampu mengajarkan aturan-aturan yang berkenaan dengan kebahagiaan. Ilmu itu bisa berprinsip bahwasanya dalam kemapanan situasi dan kondisi kehidupan material, ia mampu menghilangkan kemiskinan dan kebejatan moral.

  1. 4.      Paham sekuler tentang toleransi

Toleransi dalam pandangan sekularisme merupakan salah satu ciri yang sangat penting. Karena ciri ini, kita bisa melihat bahwa penganut sekularisme tidak segan-segan untuk bekerja sama, baik dengan kaum theis maupun atheis[20].

  1. 6.        Sekularisme dan Islam

Sekularisme  yang dalam bahasa Arabnya dikenal “al-’Ilmaniyyah”, diambil dari kata ilmu. Konon, secara mafhum, ia bermaksud mengangkat martabat ilmu. Dalam hal ini tentu tidak bertentangan dengan paham Islam yang juga menjadikan ilmu sebagai satu perkara penting manusia. Bahkan, sejak awal, Islam menganjurkan untuk memuliakan ilmu. Tetapi sebenarnya, penerjemahan kata sekular kepada “al-’Ilmaniyyah” hanyalah tipu daya yang berlindung di balik slogan ilmu. Sebenarnya makna tersirat bagi sekular adalah “al-Ladiniyah” yakni tanpa agama atau “al-Laaqidah” yakni tanpa aqidah.

Menurut seorang tokoh pemikir Islam Prof. Dr. Yusuf al-Qardhawi, dalam tulisannya tentang sekularisme, pernah menyebutkan bahwa Istilah “al-’Ilmaniyyah” dipilih untuk mengelabui mata umat Islam agar menerimanya kerana jika digunakan istilah “al-Ladiniyyah” atau “al-La’aqidah“, sudah pasti umat Islam akan menolaknya. Sebab itulah kita merasakan betapa jahatnya penterjemahan sekular kepada istilah “al-’Ilmaniyyah” dengan tujuan mengabui mata dan betapa jahatnya golongan ini yang ingin menutup perbuatan mereka tanpa diketahui oleh kebanyakan orang[21].

Tidak mengherankan jika Paham sekularisme mendapat tempat di Barat. Ini bermula dari pengekangan gereja dan tindakannya menyekat pintu pemikiran dan penemuan sains. Ia bertindak ganas dengan menguasai akal dan hati manusia, dengan arti kata lain segala keputusan adalah di tangan pihak gereja dengan mengambil kesempatan mengeruk keuntungan dari pengikutnya dengan cara yang salah.

Eropa pernah tenggelam dengan darah mangsa-mangsa pihak gereja ketika ratusan bahkan ribuan orang mati di dalam penjara dan di tali gantung. Dengan sebab ini berlakulah pertempuran antara gereja dan sains yang akhirnya tegaklah paham sekularisme yang berarti “memisahkan agama (Kristen) dari negara”. Suasana kacau balau dalam agama Kristen hasil penyelewengan yang terjadi di dalamnya (-ia hasil dari perencanaan yahudi-) memungkinkan tegaknya faham sekularisme di samping agama Kristen yang sudah ada.

Sekularisme disebarkan untuk keluar dari kungkungan gereja yang begitu mengekang pengikutnya. Masyarakat Eropa tertekan dan dizalimi di bawah pemerintahan gereja. Bagi pejuang sekular, mereka menganggap dengan berada di bawah kuasa gereja mereka tidak akan mencapai kemajuan. Sebab itulah mereka memutuskan tali ikatan diri mereka dengan gereja dan menjadi orang yang beragama Kristen hanya pada nama tidak pada pengamalan agama.

Sekularisme adalah suatu kepercayaan atau fahaman yang menganggap bahwa urusan keagamaan atau ketuhanan atau gereja tidak boleh dicampurkan dengan urusan negara, politik dan pemerintahan. Ringkasnya sekularisme adalah satu paham yang memisahkan antara urusan agama dan kehidupan dunia seperti politik, pemerintahan, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Yang jelas menurut paham sekular, soal bernegara, berpolitik, berekonomi dan sebagainya tidak ada kaitan dengan soal agama atau gereja.

Apabila paham sekularisme ingin dipindakan dari Barat ke Timur, golongan ini tidak menyadari (secara sengaja atau tidak) suasana di Timur yang berpegang kuat dengan agama Islam. Sudah pasti ia tidak sekali-kali merelakan pemisahan agama (Islam) dari negara. Keadaan dalam Islam tidak sama dengan apa yang terjadi dalam Kristen di mana sepanjang sejarah Islam tidak ada penzaliman terhadap penganutnya. Begitu juga Islam tidak membenarkan pemisahan agama (Islam) dari negara karena negara dengan fiqh Islam adalah bukan dua perkara yang berasingan. Dalam Islam, agama tidak mungkin tegak dengan sempurna tanpa negara yang akan menguatkan undang-undang agama. Dan tidak mungkin negara tegak dengan baik jika tidak ada agama yang memandunya.

Hasan Al Banna dalam “Majmu’ah Rasa’il” menegaskan bahwa Islam merupakan sistem sempurna yang merangkum urusan kehidupan manusia semuanya. Ia merangkum negara, kerajaan, rakyat, akidah, syariat, akhlak, ekonomi, keadilan, undang-undang, ilmu, jihad, dakwah, kemiliteran dan lain-lain. Pendek kata tidak ada perkara yang dibiarkan melainkan Islam merangkumnya.

Al-Quran sendiri telah menggariskan beberapa dasar umum untuk umat Islam dalam memandu kehidupan mereka. Sebagai contoh dalam bidang akidah (lihat surah Ali Imran ayat 19), bidang ibadat (lihat surah Al Baqarah ayat 43), bidang sosial (lihat surah Al-Baqarah ayat 188), bidang politik (lihat surah Saba’ ayat 15), bidang undang-undang pepemerintahan (lihat surah Al-Nisa’ ayat 59) dan juga bidang-bidang yang lain[22].

Islam menghadapi sekularisme dengan universalitasnya yang mencakup seluruh aspek kehidupan: materi dan spritual, individu dan masyarakat, sementara sekularisme tidak menerima universalitas ini, sehingga tidak ayal lagi terjadilah benturan antara keduanya. Agama Nashrani kadang-kadang menerima pendikotonomian kehidupan dan manusia kedalam dua arah, yaitu agama dan negara, atau dalam penjelasan Injil dikatakan seperti ini: “Arah bagi Tuhan dan arah bagi kaisar, maka berikanlah kaisar apa yang menjadi bagiannya, dan berikan pula kepada Tuhan apa yang menjadi bagiannya.”

Sementara Islam, ia memandang kehidupan sebagai sebuah kesatuan yang tidak terpisah-pisahkan, dan memandang manusia sebagai sebuah bangunan yang tidak terkotak-kotakan. Islam berpandangan bahwa sesungguhnya Allah adalah Tuhan bagi seluruh kehidupan dan bagi segenap umat Islam. Oleh karena itu, Islam tidak menerima kaisar sebagai sekutu Allah. Apa dan siapapun yang ada di langit dan di bumi, semuanya milik Allah. Kaisar tidak memiliki apapun. Semuanya milik Allah. Jadi Kaisar tidak boleh menguasai sebagian dari kehidupan lantas membawanya jauh dari petunjuk Allah.

Sesungguhnya, Islam hanya ingin mengarahkan seluruh kehidupan dengan hukum dan ajaran-ajarannya, serta mewarnainya dengan warnanya, yaitu dengan ajaran Allah. Islam ingin memenuhi kehidupan itu dengan jiwanya yang suci, yaitu jiwa, akhlak dan humanisme yang berpedoman kepada ajaran Tuhan[23].

Konsep sekularis – bagaimanapun – menghalangi pergerakan umat Islam dengan segenap kemampuannya. Sebab, ia adalah asing bagi umat Islam, masuk kedalam tubuh umat Islam, namun tidak mampu menggerakannya dari dalam. Contoh nyata mengenai negara Islam yang diperintah oleh sekularisme, bahwa sekularisme telah menerapkan strategi-strategi didalamnya, menghancurkan semua yang menantangnya, sehingga terjadilah lautan darah didalam negeri itu adalah Turki. Ia adalah negara kekhalifahan Islam terakhir, yang oleh Attaturk dipaksakan penerapan sejumlah konsep Barat didalam seluruh aspek kehidupan, baik didalam bidang politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kebudayaan. Attaturk memaksa negara ini menanggalkan warisannya, tradisinya (adat-istiadat) seperti lepasnya seekor domba betina dari kulitnya, lantas ia menegakan perundang-undangan Atheis, mengisolasi agama dari kehidupan secara menyeluruh, mendirikan – diatas pondasinya – hukum-hukum yang bertentangan dengan Islam sampai dalam urusan keluarga dan hak privasi sekalipun[24].

Sekularisme di negara-negara Arab dan dunia Islam bisa disebut sebagai contoh, antara lain:

–            Di Mesir : Khudaiwi Ismail memasukan perundang-undangan Prancis pada tahun 1883 M. Tokoh ini sudah tergila-gila terhadap Barat. Cita-citanya ingin menjadikan Mesir sebagai bagian dari Barat.

–            India: sampai tahun 1791 M, hukum yang berlaku di negeri ini masih sejalan dengan syari’at Islam. Tetapi setelah didalangi oleh Inggris kemudian berangsur-angsur berubah, melepaskan syari’at Islam. Sehingga pada pertengahan abad ke-19, syari’at Islam telah habis sama sekali di negeri itu.

–            Al-Jazair : Negara ini menghapuskan hukum Islam setelah dijajah Prancis pada tahun 1830 M.

–            Tunis : memasukan perundang-undangan Perancis pada tahun 1906 M

–            Marokko : memasukan perundang-undangan Perancis tahun 1913 M.

–            Irak dan Syam : Hukum Islam dihapuskan setelah Khalifah Islamiyah Osmaniyah tamat, dan tegaknya kekuasaan Inggris dan Perancis di negeri itu sampai berurat akar[25].

  1. 7.        Kesimpulan

Sebagai cabang dari pemikiran filsafat, sekulerisme dalam penggunaan masa kini secara garis besar adalah sebuah ideologi yang menyatakan bahwa sebuah institusi atau badan harus berdiri terpisah dari agama atau kepercayaan. Sekularisme juga merujuk ke pada anggapan bahwa aktivitas dan penentuan manusia, terutama yang politis, harus didasarkan pada apa yang dianggap sebagai bukti konkret dan fakta, dan bukan berdasarkan pengaruh keagamaan[26].

Sekularisme menginginkan adanya pembebasan tajam antara agama dan ilmu pengetahuan dan memandang ilmu pengetahuan otonom pada dirinya. Manusia mempunyai otonomi untuk berbuat bebas sesuai dengan apa yang ia kehendaki berdasarkan rasio. Dalam perkembangannya selanjutnya sekularisme yang terkristalkan dalam paham filsafat, menjadi paham ideologi politik dan sosial, dimana negara dan kehidupan sosial terlepas dari interpensi agama.

Islam memandang sekularisme sebagai paham yang kontradiktif dengan ajaran Islam. Dalam sekularisme pendiokotomian seluruh aspek kehidupan dengan agama sangat kontras, karena ia meyakini tidak terdapat hubungan yang  signifikan diantara keduanya. Sedangkan Islam merupakan sistem sempurna yang merangkum urusan kehidupan manusia semuanya. Ia merangkum negara, kerajaan, rakyat, akidah, syariat, akhlak, ekonomi, keadilan, undang-undang, ilmu, jihad, dakwah, kemiliteran dan lain-lain.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Attas, S.M.A., 1981, Islam dan Sekularisme, diterjemahkan oleh: Karsidjo Djodjosuwarno, Peneribit Pustaka, Bandung.

Al-Qardhawi, Y., 1997, Islam dan Sekularisme, diterjemahkan oleh: Amirullah Kandu, Lc., CV. Pustaka Setia, Bandung.

Irwan bin Mohd Subri, 2010, Hakikat sekularisme dan Bahayanya, http://www.voa-islam.com/trivia/liberalism/2010/01/07/2471/hakikat-sekularisme-dan-bahayanya/, diakses tanggal 05-12-2010

Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMI, 1995, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran, diterjemahkan oleh: A. Najiyulloh, Al-Ishlahy Press, Jakarta.

Pardoyo, 1993, Sekularisasi dalam Polemik,Pustaka Utama Grafitti, Jakarta.

Praja, J. S., 2010,  Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Kencana, Jakarta.

Rasjidi, H.M., 1997, Koreksi terhadap Drs. Nurcholis Madjid tentang Sekularisme, Bulan Bintang, Jakarta

Solihin, M., 2007, Perkembangan Pemikiran Filsafat Dari Klasik Hingga Modern, CV. Pustaka Setia, Bandung.

Wikipedia, 2010, Sekularisme, http://id.wikipedia.org/wiki/Sekularisme, diakses tanggal 05-12-2010

 

 

[1] Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas, Islam dan Sekularisme, Bandung:Penerbit Pustaka, 1981, hal. 1-2

[2] M. Solihin, Perkembangan Pemikiran FIlsafat dari Klasik hingga Modern, Bandung:CV. Pustaka Setia, 2007, hal.244-245

[3] Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas, op.cit., h.18-19

[4] Faisal Ismail, “Tentang Sekuler, Sekularisme, dan Sekularisasi” dalam Percikan Pemikiran Islam, 1984, h.10

[5] Pradoyo, Sekularisasi dalam Polemik, Jakarta;Pustaka Utama Grafiti, cet.I, 1993, h.19-20

[6] Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas, op.cit., h.20

[7] Pradoyo, op. cit., h.20

[8] Syed Muhammad Al-Naquib Al-Attas, op.cit., h.20

[9] Ibid, h.21

[10] H.M. Rasjidi, Koreksi terhadap Drs. Nurcholis Madjid tentang Sekularisme, Jakarta:Bulan Bintang, 1997, cet.II, h.15

[11]Yusuf Al-Qardhawi, Islam dan Sekularisme diterjemahkan dari buku: Al-Islam wal Ilma’niyah wajhan lil wajhin, Bandung:Pustaka Setia, cet.I, 2006, h.67

[12] Juhaya S. Praja, Aliran-aliran Filsafat dan Etika, Jakarta: Kencana, cet.IV, 2010, h.188

[13] M.Solihin, op. cit., h.246-247

[14] Lembaga Pengakajian dan Penelitian WAMI, Gerakan Keagamaan dan Pemikiran (Akar Ideologis dan Penyebarannya), Jakarta:Al-Ishlahy Press, cet.I, 1995, h.286

[15] Pradoyo, op. cit., h.37

[16] Yusuf Al-Qardhawi, op. cit., h. 69-75

[17] Pradoyo, op. cit., h.32-38

[18] M. Solihin, op. cit., h.246

[19] Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMI, op.cit., h. 285

[20] M.Solihin, op. cit., h.247-249

[21] Yusuf Al-Qardhawi, op. cit., h.65-66

[23] Yusuf Al-Qardhawi, op. cit., h.126-127

[24] Ibid, h.78

[25] Lembaga Pengkajian dan Penelitian WAMI, op. cit., h.284

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 23, 2011 in filsafat

 

Tag:

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Oktober 23, 2011 in Uncategorized