RSS

TAKHRIJ HADITS TENTANG KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM ISLAM

23 Okt


 

  1. I.         Pendahuluan

Seluruh umat Islam telah menerima faham bahwa Hadits Rasulullah SAW itu sebagai pedoman hidup yang utama setelah Al-Qur’an. Segala persoalan manusia yang tidak ditegaskan ketentuan hukumnya, tidak diterangkan cara mengamalkannya, tidak diperincikan menurut petunjuk ayat yang masih mutlaq dalam Al-Qur’an, hendaklah dicarikan penyelesaiannya dalam Hadits. Lebih tegas lagi, Tuhan sebagai dzat yang mengutus Rasulullah saw untuk menyampaikan amanat-Nya kepada umat manusia, memerintahkan kepada kita semua agar berpegang teguh kepada apa yang disampaikan oleh Rasul-Nya, sebagaimana yang termaktub dalam surat Al-Hasyr ayat 7

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٧)

 Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.(QS. Al-Hasr : 7)[1] Berpedoman kepada Hadits untuk diamalkan dan menganjurkan orang lain untuk maksud yang sama, adalah suatu kewajiban. Tentu saja pemilihan kualitas hadits baik shahih, hasan maupun dhaif harus diperhatikan secara seksama sebelum kita mempergunakan hadits tersebut. Metode takhrij merupakan salah satu upaya dalam memenuhi kebutuhan seseorang dalam meneliti keberadaan hadits. Cara ini kemudian didefinisikan sebagai proses penunjukkan Hadits pada al-Mashadir al-Ashliyyah –kitab-kitab hadits induk yang mencantumkan Hadits secara lengkap sanad dan matannya– untuk kemudian dilakukan penelitian martabat (validitas)nya jika memang masih diperlukan.     Sekurang-kurangnya ada beberapa alasan mengapa kita harus melakukan penelitian pada hadits.

  • Pertama,  Hadits merupakan segala sesuatu yang disandarkan kepada Rasulullah saw, sang pembawa risalah, sehingga segala sesuatu itu sangat berpeluang dianggap bernilai risalah. Adanya kepastian bahwa memang betul hal tersebut berasal dari sang pembawa risalah tadi itulah yang menyebabkan Hadits perlu diteliti.
  • Kedua, Hadits tidak sempat dibukukan seperti Qur’an, sehingga untuk menjamin otentisitasnya diperlukanlah cara-cara tertentu yang kemudian dikenal dengan nama takhrij.
  • Ketiga, secara empirik, periwayatan Hadits berlangsung dengan mempergunakan dua cara; yaitu riwayat Hadits bi al-Lafzh dan riwayat Hadits bil-ma’na. Cara pertama, riwayat Hadits bi al-Lafzh adalah cara meriwayatkan hadits yang dilakukan oleh para perawi dengan mempergunakan redaksi yang sama antara riwayat yang diterimanya dari gurunya (generasi sebelumnya) dengan riwayat yang disampaikannya kepada muridnya (generasi berikutnya). Sementara itu, cara kedua,  riwayat Hadits bi al-ma’na adalah cara meriwayatkan Hadits yang dilakukan oleh para perawi dengan mempergunakan redaksi yang berbeda antara riwayat yang diterimanya dari gurunya (generasi sebelumnya) dengan riwayat yang disampaikannya kepada muridnya (generasi berikutnya). Dalam perbedaan redaksi itu, boleh jadi terdapat kesamaan makna. Namun tidak tertutup kemungkinan, terdapat pula perbedaan makna yang ditangkap oleh perawi berikutnya, sehingga pemahaman terhadap makna yang terkandung dalam matan Hadits pun menjadi berbeda.
  • Keempat, ketika sampai pada tahap kodifikasinya, banyak Hadits yang “tidak sempat diteliti” oleh para mudawwin-nya, sehingga banyak Hadits yang tidak diketahui kepastian kualitasnya. Kalaupun sempat diteliti, ternyata “hanya” kitab Shahihain (shahih Bukhari dan shahih Muslim) yang “selamat”  dari “cacat” yang terdapat pada Hadits selama proses periwayatan dan kodifikasinya. Di luar dua kitab tersebut, Hadits masih memerlukan penelitian ulang.
  • Kelima, Hadits yang tidak diketahui kepastian kualitasnya itu nampak sudah “terlanjur” dibaca, difahami, dikutip (dan karenanya diyakini sebagai bagian risalah) oleh generasi yang datang pada waktu berikutnya (menjadi reliabel),  sehingga risalah itu pun, kasarnya, nampak tercampur antara Hadits yang diketahui kepastian kualitasnya dan yang tidak.

Sementara itu, secara historis, kontribusi Hadits terhadap ilmu-ilmu keislaman seperti al-Qur’an (‘Ulumul Qur’an), Fiqih/Ushul Fiqih, Ilmu Kalam, Tasawuf dan lain-lain sangatlah tinggi, bahkan nampak tidak dapat dipisahkan. Konsep-konsep besar seperti Asbab al-Nuzul, Tafsir bi al-Ma’tsur, Istinbath al-Ahkam dan yang lainnya telah menjadi “lahan penetratif” Hadits[2].   Al-Qur’an berbicara tentang perempuan dalam berbagai surat, dan pembicaraan tersebut  menyangkut berbagai sisi kehidupan. Ada ayat yang berbicara tentang hak dan kewajibannya, ada pula yang menguraikan keistimewaan tokoh-tokoh perempuan dalam sejarah agama dan kemanusiaan. Secara umum surat An-Nisa ayat 32 menunjukan hak-hak perempuan:

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢)

 “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa : 32)  Belakangan ini kepemimpinan wanita menjadi tren dimasyarakat dalam semua aspek kehidupan. Tak jarang kita menemukan sejumlah prestasi kepemimpinan dalam setiap bidang kehidupan baik formal maupun non formal. Sebagai kepala Dirut perusahaan, menteri keuangan, bahkan Presiden Republik Indonesia yang kelima dipimpin oleh Ibu Megawati sebagai sosok perempuan yang turut aktif dalam bidang politik. Dalam buku Wawasan Al-Qur’an karangan Dr. Quraisy Syihab, dalam pembahasannya mengenai Hak-hak perempuan dijelaskan. Apakah wanita memiliki hak-hak dalam bidang politik? Paling tidak ada tiga alasan yang sering dikemukakan sebagai larangan keterlibatan mereka.

  1. Ayat Arrijalu Qowwamuna ‘alan nisa’ (lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita)
  2. Hadits yang menyatakan bahwa akal wanita kurang cerdas dibandingkan dengan akal lelaki.
  3. Hadits yang menyatakan lan yaflaha qaum wallauw amrahum imra’at  (tidak akan berbahagia satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan)[3].

Berdasarkan pernyataan di atas, penulis merasa perlu mengadakan penelitian terhadap hadits yang dimaksud pada nomor tiga di atas dengan menggunakan metode takhrij hadits. Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam metode takhjij hadits adalah sebagai berikut:

  1. Mencari Hadits dalam Buku populer
  2. Mencari Hadits dalam kitab Hadits populer
  3. Indexing dengan menggunakan kitab Al-Mu’jamul Mufahros
  4. Mencari Hadits dalam mashadirul ashliyah (sumber asli)
  5. Menganalisis sanad Hadits
  6. Menganalisis mata Hadits
  7. Mencari penjelasan Hadits dengan menggunakan syarah turotsi dan syarah kontemporer.
  1. II.  Takhrij Hadits tentang Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam
  2. A.    Teks  Hadits dalam Buku Populer tentang kepemimpinan perempuan

Dalam buku wawasan Al-Qur’an karangan Dr. Quraisy Syihab terdapat pembahasan mengenai hak-hak Perempuan dalam bidang politik. Diantaranya hadits berikut yang dijadikan sandaran sebagian orang mengenai tidak bolehnya seorang perempuan menjadi pemimpin.

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً  (رواه البخاري والنسائ والترمذي واحمد)

Ketika Rasulullah Saw. Mengetahui bahwa masyarakat Persia mengangkat Putri Kisra sebagai penguasa mereka, beliau bersabda, “Tidak akan beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.” (diriwayatkan oleh Bukhari, An-Nasa’I dan Ahmad melalui Abu Bakrah)[4]

  1. B.     Teks Hadits dalam kitab Hadits populer

Setelah diadakan penelusuran hadits dalam kitab hadits populer, ditemukan teks hadits yang serupa dalam kitab bulughul marom dalam kitab Qodo no.urut hadits 1340.[5]

وَعَنْ أَبِي بَكْرَةَ رضي الله عنه عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ اِمْرَأَةً )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ 

  1. C.    Indeksing

Untuk meneliti indexing hadits yang terdapat pada buku populer dan kitab hadis populer, digunakan qoidah :

التخريج عن طريق معرفة كلمة يقل دورانها على الألسنة من أي جزإٍ من متن الحديث

Maka dari itu kami menggunakan kitab المعجم المفهرس لألفاظ الحديث  dan hasilnya adalah sebagai berikut :

  1. Pencarian dilakukan dengan menggunakan lafadz لن يفلح
  2. Hasilnya diperoleh di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Mufahras juz 5.[6]

  1. Di dalam kitab tersebut dijelaskan bahwa hadits di atas diriwayatkan oleh :
  2. Al-Bukhari

(Ditemukan dalam Kitab Shohih Bukhari, Maghozi bab.82 no. hadits 4425 dan kitab fitan bab.18 no. hadits 7099 hal.838)

  1. At-Tirmidzi

(Ditemukan dalam kitab Jami’ut Tirmidzi, fitan bab. 75 no.hadits 2262 hal.374)

  1. An-Nasa’I

(Ditemukan dalam kitab Sunan An-Nasai, Qudhot bab.8 no.hadits 5388 hal.546)

  1. Ahmad bin Hanbal

–          Setalah dilakukan penelitian indexing dalam riwayat Ahmad, peneliti tidak menemukan hadits yang dimaksud sesuai dengan kitab Mu’jam diatas. Maka penulis berinisiatif untuk melakukan pencarian indexing  hadits riwayat Ahmad yang dimaksud dengan menggunakan program Maktabah Syamilah. (Ditemukan dalam kitab musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Juz 24 no.hadits 20402 hal.43, Juz 24 no.hadits 20474 hal.120 dan Juz 24 no.hadits 20517 hal.149)

  1. D.    Mashodirul Ashliyah
  2. 1.      Hadits Riwayat Al-Bukhari

Kitab Maghozi bab. 82 no. hadits 4425.[7]

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Kitab Fitan bab.18 no. hadits 7099.[8]

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
 
2.      At-Tirmidzi 
Kitab Fitan bab. 75 no.hadits 2262.[9]
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً


 

  1. 3.      An-Nasa’I

Kitab Qudhot bab.8 no.hadits 5388.[10]

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا بِنْتَهُ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً
  1. 4.      Ahmad bin Hanbal

Juz 24 no. hadits 20402.[11]

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي بَكْرَةَ  عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ
Juz 24 no.hadits 20474.[12]

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ ، حَدَّثَنَا عُيَيْنَةُ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي بَكَرَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ.

Juz 24 no. hadits 20517.[13]

حَدَّثَنَا  هاشم، حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ ، عَنِ الْحَسَنِ ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ.

         

  1. E.     Analisis Sanad dan Rowi
  2. 1.      Deskripsi Sanad

Hadits Riwayat Al-Bukhari

  1. Kitab Maghozi bab. 82 no. hadits 4425 hal.838
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Hasan
  3. ‘Auf
  4. Utsman bin Haitsam

أَبِي بَكْرَة

الْحَسَنِ

عَوْفٌ

عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ

النبي

  1. Kitab Fitan bab.18 no. hadits  7099  hal.1356
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

1.    Abu Bakroh
2.    Hasan
3.    ‘Auf
4.

أَبِي بَكْرَة

الْحَسَنِ

عَوْفٌ

عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ

النبي

   

 ‘Utsman bin Haitsam

Hadits Riwayat At-Tirmidzi 
Kitab Fitan bab. 75 no.hadits 2262  hal.374
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً قَالَ فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ يَعْنِي الْبَصْرَةَ ذَكَرْتُ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَنِي اللَّهُ بِهِ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Hasan
  3. Humaid At-Thowil
  4. Khalid bin Harits
  5. Muhammad bin Al-Mutsanna

أَبِي بَكْرَةَ

الْحَسَنِ

حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ

خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ

مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى

النبي

               
Hadits Riwayat An-Nasa’I Kitab Qudhot bab.8 no.hadits 5388 hal.546

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا بِنْتَهُ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Hasan
  3. Humaid
  4. Khalid bin Harits
  5. أَبِي بَكْرَةَ

    الْحَسَنِ

    حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ

    خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ

    مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى

    النبي

    Muhammad bin Al-Mutsanna

          Hadits Riwayat Ahmad bin Hanbal

  1. Juz 24 no. hadits 20402 hal.43
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي بَكْرَةَ  عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Abi ‘Uyainah
  3. ‘Uyainah
  4. النبي

    أَبِي بَكْرَةَ

    أَبِي عُيَيْنَةَ

    عُيَيْنَةَ

     يَحْيَى

    Yahya

 

b.      Juz 24 no.hadits 20474 hal.120

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ ، حَدَّثَنَا عُيَيْنَةُ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي بَكَرَةَ ، قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ.

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Abi ‘Uyainah  (Abdurrohman bin Jautsan)
  3. النبي

    أَبِي بَكْرَةَ

    أَبِي عُيَيْنَةَ

    عُيَيْنَةَ

    مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ

    ‘Uyainah

  1. Muhammad bin Bakr
  1. Juz 24 no. hadits 20517 hal. 149

حَدَّثَنَا  عفان بن مسلم، حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ ، عَنِ الْحَسَنِ ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ.

Berdasarkan hadits di atas maka sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut:

  1. Abu Bakroh
  2. Hasan
  3. Mubarok
  4. Affan bin Muslim

النبي

أَبِي بَكْرَةَ

الْحَسَنِ

مُبَارَكٌ

عفان  بن مسلم

Tabel 1: Perbandingan Sanad Hadits

No

Rawi

Sanad Hadits

1

البخاري

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

2

البخاري

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

3

الترمذي

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

4

النساءي

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ قَالَ حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

5

احمد

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُيَيْنَةَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

6

احمد


حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ ، حَدَّثَنَا عُيَيْنَةُ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ أَبِي بَكَرَةَ

7

احمد

حَدَّثَنَا  عفان  بن مسلم، حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ ، عَنِ الْحَسَنِ ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ

SKEMA SANAD HADITS TENTANG KEPEMIMPINAN PEREMPUAN

RIWAYAT AL-BUKHARI, AT-TIRMIDZI, AN-NASAI DAN AHMAD

النبي

أَبِي بَكْرَةَ

أَبِي عُيَيْنَةَ

 يَحْيَى

عَوْفٌ

عُثْمَانُ بْنُ الْهَيْثَمِ

عُيَيْنَةَ

مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ

مُبَارَكٌ

عفان  بن مسلم

الْحَسَنِ

حُمَيْدٌ الطَّوِيلُ

خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ

مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى

البخاري

الترمذي

النساءي

احمد


  1. 2.        Deskripsi Rowi
    1. 1.    Sanad Hadits riwayat Al-Bukhari pada bab Maghozi dan Fitan

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)        Abu Bakroh[14] Nama                                : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                               : Assaqofi Kunyah                            : Abu Bakrah Tempat tinggal                 : Bashrah Wafat                               : 52 H Jarh wa ta’dil                   : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Hasan[15] Nama                                 : Hasan bin Abi Al-Hasan Yasar Tobaqoh                            : Al-Wustha minat tabi’in Nasab                                : Al-Bashari Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 110 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Jami’an ‘aliman, rofi’an, faqihan, tsiqatan, ma’munan, ‘abidan, nasikan, katsiral ‘ilmi, fasihan, jamilan, wasiman. Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 6 hal.95         3)   ‘Auf[16] Nama                               : ‘Auf bin Abi Jamilah Tobaqoh                           : lam talqa lishahabat Nasab                               : Al-Abdi Al-Hajari Kunyah                            : Abu Sahl Tempat tinggal                 : Bashrah Wafat                               : 146 H Jarh wa ta’dil                   : –       Menurut Abdullah Ahmad bin Hanbal dari bapaknya : Tsiqat –       Menurut Ishak bin Mansyur dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Nasa i : Tsiqat –       Menurut Abu Hatim : Sudduq dan Sholih –       Menurut Muhammad bin Saad  : Tsiqat dan banyak hapalan haditsnya Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 22 hal.437   4)        Utsman bin Haitsam[17] Nama                                : ‘Utsman bin Haitsam bin Jahm bin ‘Isya bin Hassan Al-Mundzir, Tobaqoh                           : Kibaru tabi’ul atba’ Nasab                               : Al-‘Abdi Al-‘Ashri Kunyah                            : Abu ‘Amr Tempat tinggal                 : Bashrah Wafat                               : 210 H Jarh wa ta’dil                   : –       Menurut bu Hatim : Sudduq Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 19 hal.502      

  1. 2.    Sanad hadits riwayat At-Tirmidzi

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Hasan Nama                                 : Hasan bin Abi Al-Hasan Yasar Tobaqoh                            : Al-Wustha minat tabi’in Nasab                                : Al-Bashari Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 110 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Jami’an ‘aliman, rofi’an, faqihan, tsiqatan, ma’munan, ‘abidan, nasikan, katsiral ‘ilmi, fasihan, jamilan, wasiman. Tahdzibul kamal, jilid 6 hal.95   3)      Humaid At-Thawil[18] Nama                                : Humaid bin Abi Humaid Ath-Thowil Tobaqoh                            : Ash-shughra minat tabi’in Nasab                                : Al-Khazai Kunyah                             : Abu ‘Ubaidah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 142 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Ishak bin Manshur dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Ahmad bin Abdillah Al-‘Ijli : Tsiqat –       Menurut Abdurrahman bin Abi Hatim dari bapaknya : Tsiqat la ba’sa bih –       Menurut Abdurrahman bin Yusuf bin Khirasy : Tsiqat, Shaduq Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 7 hal.355   4)      Khalid bin Harits[19] Nama                                 : Khalid bin Al-Harits bin ‘Ubaid bin Sulaiman bin ‘Ubaid bin Sufyan bin Mas’ud bin Sukin Tobaqoh                            : Al-Wustha minal Atba’ Nasab                                : Al-Hujaimi Kunyah                             : Abu ‘Utsman Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 186 H Jarh wa ta’dil                     : –       Menurut Abu Zur’ah : Shadduq –       Menurut Abu Hatim : Seorang Imam yang tsiqat –       Menurut Nasai : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 8 hal.35   5)      Muhammad bin Al-Mutsanna[20] Nama                                 : Muhammad bin Al-Mutsanna bin ‘Ubaid bin Qais bin Dinar Tobaqoh                            : Kibaru tabi’ul atba’ Nasab                                : Al-‘Anazi Kunyah                             : Abu Musa Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 252 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Sholih bin Muhammad Al-Hafidz : Sudduq –       Menurut Abu Hatim : Shalihul Hadits, Shaduq –       Menurut Abu Bakar Al-Khatib : Shaduq, wari’an, fadhilan, ‘aqilan. –       Menurut Nasai : La ba’sa bih Sumber :Tahdzibul kamal, jilid 26 hal. 359

  1. 3.    Sanad hadits riwayat An-Nasai

1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Hasan Nama                                 : Hasan bin Abi Al-Hasan Yasar Tobaqoh                            : Al-Wustha minat tabi’in Nasab                                : Al-Bashari Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 110 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Jami’an ‘aliman, rofi’an, faqihan, tsiqatan, ma’munan, ‘abidan, nasikan, katsiral ‘ilmi, fasihan, jamilan, wasiman. Tahdzibul kamal, jilid 6 hal.95   3)      Humaid At-Thawil Nama                                : Humaid bin Abi Humaid Ath-Thowil Tobaqoh                            : Ash-shughra minat tabi’in Nasab                                : Al-Khazai Kunyah                             : Abu ‘Ubaidah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 142 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Ishak bin Manshur dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Ahmad bin Abdillah Al-‘Ijli : Tsiqat –       Menurut Abdurrahman bin Abi Hatim dari bapaknya : Tsiqat la ba’sa bih –       Menurut Abdurrahman bin Yusuf bin Khirasy : Tsiqat, Shaduq Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 7 hal.355 4)      Khalid bin Harits Nama                                 : Khalid bin Al-Harits bin ‘Ubaid bin Sulaiman bin ‘Ubaid bin Sufyan bin Mas’ud bin Sukin Tobaqoh                            : Al-Wustha minal Atba’ Nasab                                : Al-Hujaimi Kunyah                             : Abu ‘Utsman Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 186 H Jarh wa ta’dil                     : –       Menurut Abu Zur’ah : Shadduq –       Menurut Abu Hatim : Seorang Imam yang tsiqat –       Menurut Nasai : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 8 hal.35 5)      Muhammad bin Al-Mutsanna Nama                                 : Muhammad bin Al-Mutsanna bin ‘Ubaid bin Qais bin Dinar Tobaqoh                            : Kibaru tabi’ul atba’ Nasab                                : Al-‘Anazi Kunyah                             : Abu Musa Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 252 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dari Yahya bin Ma’in : Tsiqat –       Menurut Sholih bin Muhammad Al-Hafidz : Sudduq –       Menurut Abu Hatim : Shalihul Hadits, Shaduq –       Menurut Abu Bakar Al-Khatib : Shaduq, wari’an, fadhilan, ‘aqilan. –       Menurut Nasai : La ba’sa bih Sumber :Tahdzibul kamal, jilid 26 hal. 359  

  1. 4.    Sanad hadits riwayat Ahmad
  2. Riwayat kesatu

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Abi ‘Uyainah[21] Nama                                 : Abdurrahman bin Jausyan bin Jausyan Tobaqoh                            : Al-wustho minat tabi’in Nasab                                : – Kunyah                             : – Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : – Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : laisa bil masyhur –       Menurut Abu Zur’ah : tsiqat –       Menurut Tirmidzi : shahih Sumber : Tahdzibul kamal, Jilid 17 hal.34 3)      ‘Uyainah[22] Nama                                 : ‘Uyainah bin Abdurrahman bin Jausyan Al- Ghathafani Al-Jausyani Tobaqoh                            : Kibarul Atba’ Nasab                                : Al-Ghathafani Al-Jausyani Kunyah                             : Abu Malik Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : – Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Abbas Adduriyyu dari Yahya bin Ma’in : laisa bihi ba’sun –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Tsiqat –       Menurut Abu Hatim : Sudduq –       Menurut Nasai : Tsiqat –       Menurut Ibnu Hibban : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal , Jilid 23 hal.77     4)      Yahya[23] Nama                                 : Yahya bin Sa’id bin Farrukh Tobaqoh                            : Ash-shugro minal atba’ Nasab                                : Al-Qaththan At-Tamimi Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 198 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Tsiqat, Ma’munan –       Menurut Al-‘Ijli : Tsiqat –       Menurut Abu Zur’ah : Tsiqat –       Menurut Abu Hatim : Tsiqat, Hafidz –       Menurut Nasai : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, Jilid 31 hal.329  

  1. Riwayat kedua

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5         2)      Abi ‘Uyainah Nama                                 : Abdurrahman bin Jausyan bin Jausyan Tobaqoh                            : Al-wustho minat tabi’in Nasab                                : – Kunyah                             : – Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : – Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Abdullah bin Ahmad bin Hanbal : laisa bil masyhur –       Menurut Abu Zur’ah : tsiqat –       Menurut Tirmidzi : shahih Sumber : Tahdzibul kamal, Jilid 17 hal.34   3)      ‘Uyainah Nama                                 : ‘Uyainah bin Abdurrahman bin Jausyan Al- Ghathafani Al-Jausyani Tobaqoh                            : Kibarul Atba’ Nasab                                : Al-Ghathafani Al-Jausyani Kunyah                             : Abu Malik Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : – Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Abbas Adduriyyu dari Yahya bin Ma’in : laisa bihi ba’sun –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Tsiqat –       Menurut Abu Hatim : Sudduq –       Menurut Nasai : Tsiqat –       Menurut Ibnu Hibban : Tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal , Jilid 23 hal.77   4)      Muhammad bin Bakr[24] Nama                                 : Muhammad bin Bakr bin ‘Utsman Tobaqoh                            : Ash-Shugro minal Atba’ Nasab                                : Al-Bursani Kunyah                             : Abu ‘Utsman Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 204 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Hanbal bin Ishak : Shalihul hadits –       Menurut ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darami dari Yahya bin Ma’in, Abu Daud, ‘Ijli : Tsiqat –       Menurut Ibnu Hibban : tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 24 hal.530  

  1. Riwayat ketiga

Sanadnya tersusun dari rowi-rowi sebagai berikut : 1)      Abu Bakroh Nama                                 : Nufa’I bin Al-Harits bin Kaladah bin Amar Tobaqoh                            : Sahabat Nasab                                : Assaqofi Kunyah                             : Abu Bakrah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 52 H Jarh wa ta’dil                    : Kullu Shahabi ‘Udulun Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 30 hal.5   2)      Hasan Nama                                 : Hasan bin Abi Al-Hasan Yasar Tobaqoh                            : Al-Wustha minat tabi’in Nasab                                : Al-Bashari Kunyah                             : Abu Sa’id Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 110 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Muhammad bin Sa’ad : Jami’an ‘aliman, rofi’an, faqihan, tsiqatan, ma’munan, ‘abidan, nasikan, katsiral ‘ilmi, fasihan, jamilan, wasiman. Sumber: Tahdzibul kamal, jilid 6 hal.95 3)      Mubarok[25] Nama                                 : Mubarok bin Fadhalah bin Abi Umayyah Tobaqoh                            : Lam talqo lishahabah Nasab                                : Al-Quraisyi Kunyah                             : Abu Fadhlah Tempat tinggal                  : Bashrah Wafat                                : 165 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut ‘Amr bin ‘Ali saya mendengar ‘Affan  berkata : tsiqat –       Menurut ‘Abdullah bin Ahmad : Dha’iful Hadits –       Menurut ‘Utsman bin Sa’id Ad-Darami : Laisa bihi ba’sun –       Menurut Abu Bakr bin Abi Khaitsamah : Dhaif –       Menurut Nasai : Dhaif Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 27 hal.180   4)      Affan bin Muslim[26] Nama lengkap                   : Affan bin Muslim bin Abdullah Tobaqoh                            : kibaru tabi’ul atba’ Nasab                                : Bashrah Kunyah                             : Abu ‘Ustman Tempat tinggal                  : Baghdad Wafat                                : 220 H Jarh wa ta’dil                    : –       Menurut Abu Ahmad bin ‘Adi : Asyharu, Ashdaqu wa Autsaqu –       Menurut Abu Hatim : tsiqat Sumber : Tahdzibul kamal, jilid 20 hal.160

  1. 2.      Analisis Sanad dan Rowi

Berdasarkan penelitian terhadap rowi dan sanad hadits dari beberapa riwayat hadits dapat disimpulkan :

  1. Sanad hadits dari riwayat Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad riwayat kesatu dan kedua  menunjukan muttasil artinya periwayatan hadits tidak terputus pada Nabi ini menunjukan bahwa hadits tersebut adalah hadits marfu’.
  2. Kecuali satu Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad (riwayat III) menunjukan tidak muttasil karena pada salah satu sanadnya terdapat satu perawi hadits yaitu Mubarok bin Fadhlah bin Abi Umayah yang diketahui secara tobaqah tidak pernah bertemu dengan sahabat, sehingga mempengaruhi pada jarh wa ta’dil yang menunjukan dha’iful hadits.
  3. Hadits di atas termasuk hadits ahad yakni dalam setiap thabaqah hanya terdiri dari dari tiga, dua atau seorang rawi. Dan berdasarkan klasifikasi hadits ahad, hadits tersebut dikategorikan hadits ahad ‘aziz.

Shahabat Abu Bakrah memberikan hadits tersebut kepada dua orang, yaitu Hasan dan Abi Uyainah. Dari Hasan diterima oleh tiga orang yaitu Mubarok, Humaid dan ‘Auf.  Dari Mubarok hadits diterima oleh ‘Affan bin Muslim dan sampai kepada Ahmad, dari Humaid hadits diterima oleh Khalid bin Harits dan diterima oleh Muhammad bin al-Mutsanna, dari Auf hadits diterima oleh ‘Utsman bin Al-Haitsam dan sampai kepada Al-Bukari, At-Tirmidzi dan An-Nasai. Dari abi ‘Uyainah diterima oleh ‘Uyainah kemudian diterima oleh dua yaitu Muhammad bin Bakr dan Yahya dan sampai kepada Ahmad.

  1. Berdasarkan kaidah kesahihan sanad Hadits, hadits yang diriwayatkan oleh Al-bukari, At-Tirmidzi, An-Nasai dan Ahmad pada hadits kesatu dan kedua menunjukan derajat kualitas hadits shohih, hal ini didasarkan pada kriteria kesahihan hadits yang mencakup:
  2. Dari segi sanad antara perawi satu dengan lainnya pada sanad hadits riwayat Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad riwayat kesatu dan kedua bersambung sanadnya (muttasil)
  3. Dari segi jarh wa ta’dil berdasarkan penilaian  dan komentar para ulama jarh wa ta’dil para perowi hadits yang terdapat pada hadits riwayat Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad riwayat kesatu dan kedua. Dapat dikatakan bahwa mereka termasuk rawi-rawi yang memiliki sifat adil dan dhabit (tsiqah),
  4. Periwayat hadits pada umumnya mereka semua adalah dhabbit (hapal dengan sempurna hadits yang diterimanya dan mampu menyampaikan dengan baik hadits yang dihafalnya itu kepada orang lain).
  5. Terhindar dari syuzuz (ke-syazan), karena semua rowi tsiqat, memiliki lebih dari satu periwayatan dan dari aspek matan tidak mengandung pertentangan.
  6. Tidak terdapat ‘illat  (kecacatan) baik pada sanad maupun matan hadits.
    1. Sedangkan pada hadits ahmad ketiga ditemukan seorang rawi yaitu Mubarrok dalam tobaqohnya ia disebutkan tidak pernah bertemu dengan shahabat. Sehingga dalam jarh wata’dil disebutkan sebagai orang yang lemah dan haditsnya dhoif. Tapi hadits tersebut karena terdapat syahid dalam periwayatan Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan An-Nasai dengan derajat kualitas hadits yang shohih maka hadits ini terangkat yang tadinya dhoif menjadi hasan lighoirihi.
  1. F.     Analisis Matan

Tabel 2: Perbandingan Matan Hadits

No

Rawi

Matan Hadits

1

البخاري

لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيَّامَ الْجَمَلِ بَعْدَ مَا كِدْتُ أَنْ أَلْحَقَ بِأَصْحَابِ الْجَمَلِ فَأُقَاتِلَ مَعَهُمْ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

2

البخاري

لَقَدْ نَفَعَنِي اللَّهُ بِكَلِمَةٍ أَيَّامَ الْجَمَلِ لَمَّا بَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ فَارِسًا مَلَّكُوا ابْنَةَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

3

الترمذي

عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا ابْنَتَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

4

النساءي

عَصَمَنِي اللَّهُ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَلَكَ كِسْرَى قَالَ مَنْ اسْتَخْلَفُوا قَالُوا بِنْتَهُ قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

5

احمد

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

6

احمد

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

7

احمد

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ

 Berdasarkan redaksi hadits dari beberapa riwayat diatas terdapat beberapa perbedaan dalam menuliskan redaksi. Hadits Al-Bukhari nampaknya merupakan hadits yang sangat lengkap dalam penulisan redaksi dibanding dengan riwayat hadits lainnya. Hal ini dibisa dipahami dari kandungan hadits Al-Bukhari yang menjelaskan tentang keadaan pada saat hadits itu disampaikan oleh Nabi yaitu yaitu pada waktu perang Jamal tatkala sahabat hampir bergabung dengan para penunggang unta lalu sahabat ingin berperang bersama mereka.- Dia berkata; ‘Tatkala sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa penduduk Persia telah di pimpin oleh seorang anak perempuan putri raja Kisra, beliau bersabda: “Suatu kaum tidak akan beruntung, jika dipimpin oleh seorang wanita.”.

Begitu juga hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Nasai yang menjelaskan perihal ketika Sahabat mendengar dari Rasul  berita kematian Kisra, kemudian Rasul bertanya tentang siapa yang menjadi penggantinya. Kemudian mereka menjawab putrinya yang akan menggantikan Kisra. Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Tidak akan beruntung suatu kaum yang menguasakan urusan mereka kepada seorang wanita."

Sedangkan dalam periwayatan Ahmad redaksi hadits langsung menunjukan pada pokok utama hadits yang menjelaskan tentang tidak akan bahagia suatu kaum apabila dipimpin oleh seorang wanita. Berikut beberapa perbedaan redaksi matan hadits :

  1. Riwayat Al-Bukhari, At-Tirmidzi dan An-Nasai redaksi matan hadits yang digunakan adalah:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

  1. Riwayat Ahmad pada hadits kesatu dan kedua redaksi matan hadits yang digunakan adalah:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ أَسْنَدُوا أَمْرَهُمْ إِلَى امْرَأَةٍ

  1. Riwayat Ahmad pada hadits yang ketiga redaksi matan hadits yang digunakan adalah:

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ تَمْلِكُهُمُ امْرَأَةٌ

Dari ketiga matan hadits diatas perbedaan terlihat dari penggunaan kata wallauw amrahum, asnadu amrahum ila, dan tamlikuhum, yang mempunyai arti menyerahkan, menyandarkan, menguasakan urusan. Meskipun terdapat perbedaan redaksi satu sama lain dalam hadits di atas, tidak terdapat pertentangan dari segi makna matan. Secara umum hadits diatas menyampaikan satu hal tentang tidak akan bahagianya suatu kaum apabila dipimpin oleh seorang wanita.

  1. G.    Syarah Hadits

Syarah hadits yang digunakan dalam mengkaji hadits digunakan dua syarah, yaitu hadits turotsi dan hadits kontemporer. Adapun kitab yang digunakan dalam syarah turotsi adalah subulus salam. Sedangkan rujukan yang digunakan dalam hadits kontemporer adalah buku wawasan Al-Quran sebagai sumber pengambilan hadits untuk takhrij.

  1. 1.    Syarah Turotsi

Subulus salam

وعن أبي بكرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “لن يفلح قوم ولوا أمرهم امرأة” رواه البخاري فيه دليل على عدم جواز تولية المرأة شيئا من الأحكام العامة بين المسلمين وإن كان الشارع قد أثبت لها أنها راعية في بيت زوجها وذهب الحنفية إلى جواز توليتها الأحكام إلا الحدود وذهب ابن جرير إلى جواز توليتها مطلقا والحديث إخبار عن عدم فلاح من ولي أمرهم امرأة وهم منهيون عن جلب عدم الفلاح لأنفسهم مأمورون باكتساب ما يكون سببا للفلاح

  Dan dari Abi Bakroh RA dari Nabi SAW : tidak akan beruntung suatu kaum menyerahkan urusan mereka (kepemimpinan) kepada perempuan. Diriwayatkan oleh Bukhori hal ini merupakan dalil atas tidak bolehnya kepemimpinan kepada perempuan hukum yang umum diantara kaum muslimin, syara  menetapkan pada kaum perempuan, bahwa perempuan ditetapkan sebagai pemimpin di rumah suaminya. Dan berpendapat hanafi tentang bolehnya menyerahkan hukum-hukum pada perempuan kecuali masalah hudud. Sedangkan ibnu jarir berpendapat bahwa bolehnya menyerahkan kepemimpinan pada perempuan secara mutlak dan hadits menerangkan tentang tidak akan beruntung kepemimpinan urusan mereka kepada perempuan, mereka terhalang dari keberuntungan, karena usaha yang mereka lakukan tidak menyebabkan keberuntungan[27].

  1. 2.    Syarah kontemporer

Apakah wanita memiliki hak-hak dalam bidang politik? Paling tidak ada tiga alasan yang sering dikemukakan sebagai larangan keterlibatan mereka.

  1. Ayat Arrijalu qawwamuna ‘alan-nisa (lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita) (QS. An-Nisa ayat 34)
  2. Hadits yang menyatakan bahwa akal wanita kurang cerdas dibandingkan dengan akal lelaki: keberagamaanya pun demikian.
  3. Hadits yang mengatakan: lan yaflaha qaum wallauw amrahum imra’at (tidak akan berbahagia satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan).

Ayat dan hadits di atas menurut mereka mengisyaratkan bahwa kepemimpinan hanya untuk kaum lelaki. Al-Qurtubhi dalam tafsirnya menulis tentang makna ayat di atas:

 الرجال يقدمون بالنفقة عليهن والدب عنهن وايضا فان فيهم الحكام والامراء ومن يغزو وليس ذلك في النساء

para lelaki (suami) didahulukan (diberi hak kepemimpinan, karena lelaki berkewajiban memberikan nafkah kepada wanita dan membela mereka, juga (karena) hanya lelaki yang menjadi penguasa, hakim, dan juga ikut bercampur. Sedangkan semua itu tidak terdapat pada wanita. Selanjutnya penafsir ini, menegaskan bahwa:

ان يقوم الرجال بتدبيرها وتاءديبها وامساكها في بيتها ومنعها من البروز وان عليها طاعته وقبول امره ما لم تكن معصية

Ayat ini menunjukan bahwa lelaki berkewajiban mengatur dan mendidik wanita, serta menugaskannya berada di rumah dan melarangnya keluar. Wanita berkewajiban menaati dan melaksanakan perintahnya selama itu buka perintah maksiat. Pendapat ini diikuti oleh banyak mufasir lainnya. Namun, sekian banyak mufasir dan pemikir kontemporer melihat bahwa ayat di atas tidak harus dipahami demikian, apalagi ayat tersebut berbicara dalam konteks kehidupan berumah tangga. Seperti dikemukakan sebelumnya, kata ar-rijal dalam ayat ar-rijalu qawwamuna ‘alan-nisa, bukan berarti lelaki secara umum, tetapi adalah “suami” karena konsiderans perintah tersebut seperti ditegaskan pada lanjutan ayat adalah karena mereka (para suami) menafkahkan sebagian harta untuk isteri-isteri mereka. Seandainya yang dimaksud dengan kata “lelaki” adalah kaum pria secara umum, tentu konsideransnya tidak demikian. Terlebih lagi lanjutan ayat tersebut secara jelas berbicara tentang para isteri dan kehidupan rumah tangga. Ayat ini secara khusus akan dibahas lebih jauh ketika menyajikan peranan, hak, dan kewajiban perempuan dalam rumah tangga Islam. Adapun mengenai hadits, “tidak beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan”, perlu digaris bawahi bahwa hadits ini tidak bersifat umum. Ini terbukti dari redaksi hadits tersebut secara utuh, seperti diriwayatkan Bukhari, Ahmad, An-Nasai dan At-Tirmidzi melalui Abu Bakrah.

عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ أَهْلَ فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ بِنْتَ كِسْرَى قَالَ لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً  (رواه البخاري والنسائ والترمذي واحمد)

Ketika Rasulullah Saw. Mengetahui bahwa masyarakat Persia mengangkat Putri Kisra sebagai penguasa mereka, beliau bersabda, “Tidak akan beruntung satu kaum yang menyerahkan urusan mereka kepada perempuan.” (diriwayatkan oleh Bukhari, An-Nasa’I dan Ahmad melalui Abu Bakrah)  Jadi sekali lagi hadits tersebut di atas ditujukan kepada masyarakat Persia ketika itu, bukan terhadap semua masyarakat dan dalam semua urusan. Kita dapat berkesimpulan bahwa, tidak ditemukan satu ketentuan agama pun yang dapat dipahami sebagai larangan keterlibatan perempuan dalam bidang politik atau ketentuan agama yang membatasi bidang tersebut hanya untuk kaum lelaki. Disisi lain, cukup banyak ayat dan hadits yang dapat dijadikan dasar pemahaman untuk menetapkan adanya hak-hak tersebut. Salah satu ayat yang sering dikemukakan oleh para pemikir Islam berkaitan dengan hak-hak politik kaum perempuan adalah surat At-Taubah ayat 71:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٧١)

 “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.   Secara umum ayat di atas dipahami sebagai gambaran tentang kewajiban melakukan kerja sama antara lelaki dan perempuan untuk berbagai bidang kehidupan yang ditunjukan dengan kalimat “menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah yang munkar”. Pengertian kata “aulia” mencakup kerja sama, bantuan, dan penguasaan; sedangkan pengertian yang terkandung dalam frase “menyuruh mengerjakan yang makruf” mencakup segala segi kebaikan dan perbaikan kehidupan, termasuk memberikan nasehat atau kritik kepada penguasa, sehingga setiap lelaki dan perempuan muslim hendaknya mengikuti perkembangan masyarakat agar masing-masing mampu melihat dan member saran atau nasehat untuk berbagai bidang kehidupan. Menurut sementara pemikir, sabda Nabi Saw yang berbunyi,

من لم  يهتم  بامر المسلمين فليس منهم

Barangsiapa yang tidak memperhatikan kepentingan (urusan) kaum Muslim, maka ia tidak termasuk golongan mereka.Hadits ini mencakup kepentingan atau urusan kaum muslim yang dapat menyempit atau meluas sesuai dengan latar belakang dan tingkat pendidikan seseorang, termasuk dibidang politik. Disisi lain, Al-Qur’an juga mengajak umatnya (lelaki dan perempuan) agar bermusyawarah, melalui “pujian tuhan kepada mereka yang melakukannya”.

وَالَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِرَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣٨)

 “Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. (QS. Asy-Syura : 38)   Ayat ini dijadian dasar oleh para ulama untuk membuktikan adanya hak berpolitik bagi setiap lelaki dan perempuan. Syura (musyawarah) menurut Al-Qur’an hendaknya merupakan salah satu prinsip pengelolaan bidang-bidang kehidupan bersama, termasuk kehidupan politik. Ini dalam arti bahwa setiap warga Negara dalam hidup bermasyarakat dituntut untuk senantiasa mengadakan musyawarah.  Sejarah Islam juga menunjukan betapa kaum perempuan tanpa kecuali terlibat dalam bidang kemasyarakatan. Al-Qur’an menguraikan permintaan para perempuan di zaman Nabi Saw untuk melakukan bai’at (janji setia kepada Nabi dan ajarannya), sebagaiaman disebut dalam surat Al-Mumtahanah ayat 12. Sementara pakar agama Islam menjadikan bai’at para perempuan sebagai bukti kebebasan untuk menentukan pandangan berkaitan dengan kehidupan serta hak untuk mempunyai pilihan yang berbeda dengan pandangan kelompok-kelompok lain dalam masyarakat, bahkan terkadang berbeda dengan pandangan suami dan ayah mereka sendiri. Kenyataan sejarah menunjukan sekian banyak wanita yang terlibat pada persoalan politik praktis, Ummu Hani misalnya dibenarkan sikapnya oleh Nabi Muhammad Saw. Ketika memberikan jaminan keamanan kepada sebagian orang musyrik (jaminan keamanan merupakan salah satu aspek bidang politik). Bahkan isteri Nabi Saw sendiri, yakni Aisyah r.a. memimpin langsung peperangan melawan Ali bin Abi Thalib yang ketika itu menduduki jabatan kepala Negara. Dan isu terbesar dalam peperangan tersebut adalah suksesi setelah terbunuhnya khalifah ketiga Utsman bin Affan. Peperangan ini dikenal dalam sejarah Islam dengan nama perang unta (656M). keterlibatan Aisyah r.a. bersama sekian banyak para sahabat Nabi dan kepemimpinannya dalam peperangan itu, menunjukan bahwa beliau bersama para pengikutnya membolehkan keterlibatan perempuan dalam bidang politik praktis sekalipun. Dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh setiap orang, termasuk kaum wanita, mereka mempunyai hak untuk bekerja dan menduduki jabatan tertinggi, kendati ada jabatan yang oleh sebagian ulama dianggap tidak boleh diduduki oleh kaum wanita, yaitu jabatan kepala Negara (Al-Imamah Al-‘Udzma) dan hakim, namun perkembangan masyarakat dari saat ke saat mengurangi pendukungan larangan tersebut, khususnya persoalan kedudukan perempuan sebagai hakim. Dalam beberapa kitab hukum Islam, seperti Al-Mughni, ditegaskan bahwa setiap orang yang memiliki hak untuk melakukan sesuatu, maka sesuatu itu dapat diwakilkan kepada orang lain, atau menerima perwakilan dari orang lain. Atas dasar kaidah di atas, Dr. Jamaluddin Muhammad Mahmud berpendapat bahwa berdasarkan  kitab fiqih – bukan hanya sekadar pertimbangan masyarakat –  kita dapat menyatakan bahwa perempuan dapat bertindak sebagai pembela maupun penuntut dalam berbagai bidang. Tentu masih banyak lagi yang dapat dikemukakan mengenai hak-hak perempuan untuk berbagai bidang. Namun, kesimpulan akhir yang dapat ditarik adalah bahwa mereka adalah Syaqaiq Ar-Rijal (saudara sekandung kaum lelaki), sehingga kedudukan serta hak-haknya hampir dapat dikatakan sama. Kalaupun ada perbedaan yang dibebankan Tuhan kepada masing-masing jenis kelamin, sehingga perbedaan yang ada tidaklah mengakibatkan yang satu merasa memiliki kelebihan daripada yang lain:

وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢)

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi Para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. An-Nisa : 32)[28]

KESIMPULAN

 

Berdasarkan penelitan terhadap hadits tentang kepemimpinan perempuan, baik ditinjau dari analisis sanad, rowi, dan syarahnya. Maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Dilihat dari segi sanad : para perowi hadits pada sanad yang diambil oleh para penyusun kitab hadits (mudawin) yaitu Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad dalam hadits tentang kepemimpinan di atas dapat dikatakan bahwa antara rowi yang satu dengan rowi yang sebelum atau sesudahnya dimungkinkan sejaman (Mu’asharah) dan saling bertemu (Liqa’). Sehingga terdapat keterikatan guru dan murid, maka semua sanad hadits tersebut dapat dikatakan bersambung (Muttashil). Kecuali satu hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, terdapat satu rawi hadits yaitu Mubarok bin Fadhlah bin Abi Umayah yang diketahui tidak pernah bertemu dengan sahabat.
  2. Dilihat dari segi Jarrah dan Ta’dil rowi : berdasarkan penilain dan komentar para ulama Jarrah wa Ta’dil, para perowi hadits yang terdapat pada sanad yang digunakan oleh penyusun kitab hadits (Mudawin), yaitu Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad. Dapat dikatakan bahwa mereka termasuk rawi-rawi yang yang memiliki sifat adil dan dhabit (tsiqah), atau pada sebagian rawi sekurang-kurangnya dinilai shaduq (benar) dan terpercaya. Walaupun ada seorang rowi yaitu Mubarok bin Fadhlah pada hadits riwayat Ahmad pada hadits ketiga dinilai dhoif.
  3. Dilihat dari redaksi ketujuh matan hadits yang telah ditakhrij di atas (yaitu riwayat Bukhari, Tirmidzi, Nasai dan Ahmad), dapat dikatakan bahwa redaksi matan yang terdapat pada hadits tersebut meskipun terdapat perbedaan pada sebagian teks hadits, namun perbedaannya hanya sedikit dan tidak signifikan.
  4. Dilihat dari tinjauan syarah Turatsi maupun kontemporer, dapat disimpulkan sebagai berikut :

–          Berdasarkan syarah turotsi hadits ini merupakan dalil tentang tidak bolehnya kepemimpinan diserahkan kepada perempuan. Meskipun Hanafi membolehkan perempuan jadi pemimpin kecuali dalam masalah hudud –          Sedangkan para pemikir kontemporer, memperbolehkan perempuan menjadi pemimpin. Hadits di atas secara konteks hanya diperuntukan pada pada saat dimana  putrinya raja Kisra diangkat menjadi pemimpin di Persia. Dan hadits tersebut dengan konteks zaman sekarang sudah berbeda. Kaum perempuan pada zaman sekarang dapat disejajarkan dengan kaum laki-laki yang telah mendapatkan kesamaan hak dalam mendapatkan pendidikan. Sehingga hal ini membuka peluang secara terbuka bagi kaum perempuan untuk menentukan pandangan, bekerja, dan menduduki jabatan. Disamping secara historis pada zaman nabi ada sebagian wanita yang terlibat pada persoalan politik praktis dan terlibat dalam peperangan.

DAFTAR PUSTAKA

  Al-Asqolani, Al-Hafidz bin Hajar, tt. Bulughul Marom, Indonesia : Maktabah Daru Ihyail kutubil arabiyah.   Al-Bukhari, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il, 1998, Shahih Al-Bukhari,Riyadh: Baitul Afkar   Al-Mazi, Jamaludin Abi Al-Hajjaj Yusuf, Tahdzibul Kamal Fi Asmair-Rijal, Bairut : Muassasah Risalah   An-Nasai, Abi Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali, tt., Sunan An-Nasai, Riyadh: Baitul Afkar   Ash-Shan’ani, Muhammad bin Isma’il Al-Amiru Al-Yamani, 1995M/1415H, Subulus salam syarah bulughul maram, Riyadh: Maktabah Nazzar Musthafa Al-Baz   At-Tirmidzi, Abi ‘Isa Muhammad bin ‘Isya bin Saurah, tt., Jami’ut Tirmidzi, Riyadh: Baitul Afkar   Hanbal, Imam Ahmad, 1995, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Bairut : Muassasah Risalah   Rahman, Fatchur, 1987, Ikhitsar Musthalahul Hadits, Bandung : PT. Al-Ma’arif   Syihab, Muhammad Quraisy, 1998, Wawasan Al-Qur’an:Tafsir Maudhu’I Atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung:Penerbit Mizan   Wensink, 1936,  Al-Mu’jamul Mufahros, Leiden: Maktabah Barbal   Software Rujukan :–       Al-Mausu’ah Hadits Syarif, Global Islamic Software Company. –       Hadits Sembilan Imam (terjemah indonesia), Lidwa pustaka i-software. –       Maktbah Syamilah –       Jawami’ul Kalim


[1] Fatchur Rahman, Ikhtisar Mushthalahul Hadits, (Bandung:PT.Al-Ma’arif, 1987), cet. Ke-5, hlm.1
[2] Kutipan ini disampaikan dalam perkuliahan dikelas pada mata kuliah Hadits oleh Dr. H. M. Anton Athoillah, MM
[3] Quraisy Syihab, Wawasan Al-Qur’an : Tafsir Maudhu’I Atas Pelbagai  Persoalan Umat, (Bandung:Penerbit Mizan, 1998), cet.VIII, hal.313
[4] Ibid, hal.314
[5] Al-Hafidz bin Hajar Al-Asqolani, Bulughul marom, (Indonesia:Maktabah Daru  Ihyail Kutubil Arabiyah, tt.)  hal.749
[6] Wensink, Mu’jam Mufahras lil Alfadzi Hadits Nabawi. (Leyden : Maktabah Barbl, 1936), hal.196
[7] Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, (Riyadh: Baitul Afkar, 1998), hal.838
[8] Ibid, hal.1356
[9] Abi ‘Isa Muhammad bin ‘Isya bin Saurah At-Tirmidzi,  Jami’ut Tirmidzi, (Riyadh: Baitul Afkar, tt.), hal.374
[10] Abi Abdurrahman Ahmad bin Syu’aib bin ‘Ali An-Nasai, Sunan An-Nasai, (Riyadh: Baitul Afkar, tt.), hal.546
[11] Imam Ahmad bin Hanbal,  Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, (Bairut : Muassasah Risalah, 1995), hal.43
[12] Ibid, hal.120
[13] Ibid, hal.149
[14] Jamaludin Abi Al-Hajjaj Yusuf Al-Mazi,  Tahdzibul Kamal Fi Asmair-Rijal, (Bairut : Muassasah Risalah, tt.), hal.16
[15] Ibid, hal.95
[16] Ibid, hal.437
[17] Ibid, hal.502
[18] Ibid, jilid 7 hal.355
[19] Ibid, jilid 8 hal.35
[20] Ibid, jilid 26 hal.359
[21] Ibid, jilid 17 hal.34
[22] Ibid, jilid 23 hal.77
[23] Ibid, jilid 31 hal.329
[24] Ibid, jilid 24 hal.530
[25] Ibid, jilid 27 hal.180
[26] Ibid, jilid 20 hal.160
[27] Muhammad bin Isma’il Al-Amiru Al-Yamani Ash-Shan’ani, Subulus salam syarah bulughul maram, (Riyadh: Maktabah Nazzar Musthafa Al-Baz, 1995 M/1415H), hal.1924
[28] Op. cit., Quraisy Syihab, hal.313-318
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 23, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: